Laman Tranung Kite Cyberlink Millenium 2000

 

AKHBAR INDONESIA MENGEJEK MAHATHIR

ARTI PENAMBAHAN SUARA BAGI OPOSISI MALAYSIA

NGIN reformasi di Malaysia yang dikumandangkan Front Nasional yang terdiri atas partai-partai oposisi memang belum berpengaruh kuat. Hasil Pemilu 29 November 1999, masih memberikan kekuatan bagi Barisan Nasional (koalisi 14 partai yang memerintah dan menjagokan PM Mahathir Mohamad), dengan 148 kursi di parlemen. Jumlah itu merosot dibanding dengan Pemilu 1995 di mana Barisan Nasional memperoleh 166 kursi di parlemen.

Namun oposisi Front Nasional dengan Parti Islam Se-Malaysia (Pas), Parti Nasional Keadilan serta Parti Tindakan Demokratik (DAP) telah berhasil menambah 27 kursi. Jika tadinya oposisi hanya menguasai negara bagian Kelantan, kini Terengganu yang kaya minyak dan gas juga dimenangkan oleh Pas dan oposisi-Front Nasional. Fenomena penambahan kursi bagi oposisi serta penguasaan bagi sebuah negara bagian, menunjukkan bahwa rakyat Malaysia tidak seluruhnya bisa mempercayai kepemimpinan Barisan Nasional.

Kampanye yang memojokkan tokoh Anwar Ibrahim (mantan Deputi PM yang kini dihukum penjara 6 tahun), juga tidak seberapa telak. Tangkisan membela tokoh Anwar Ibrahim yang istrinya membentuk Parti Nasional Keadilan dan langsung mendapat 5 kursi itu, juga senada dengan apa yang diutarakan Ketua Pas Fadzil Noor. Bukti yang paling telak, adalah kekalahan kubu Mahathir di Kedah, negara bagian di mana sang PM berasal. Barisan Nasional dan UMNO juga kehilangan 4 menteri dan beberapa pembantu utama menteri lainnya.

SEPERTI yang kita kemukakan sebelumnya, Pemilu 29 November 1999 hendak mele-gitimasi ulang kekuasaan PM Mahathir. Pertama, karena dia ingin dan harus membuktikan, Barisan Nasional dan dia pribadi masih pantas memerintah Malaysia. Kedua, pemilihan umum yang dipercepat itu untuk memantapkan kedudukan PM Mahathir yang dalam dua tahun terakhir, terus menjadi sasaran kritik pihak oposisi. Dalam suatu tataran negara yang demokratis, jika terdapat gugatan-gugatan terhadap kepemimpinan nasional, maka cara yang paling tepat adalah mengujinya melalui pemilihan umum. Ketiga, kekuatan UMNO (United Malays National Organization) sebagai partai utama pemimpin koalisi harus berani mempertanggungjawabkan kekuasaannya kepada rakyat Malaysia.

Banyak pengamat terutama di Barat yang mempunyai "analisis miring". Mereka memperkirakan Mahathir yang dengan hasil Pemilu November 1999, akan berkuasa sampai tahun 2004, akan turun di tengah jalan. Prediksi itu dikaitkan dengan pengalaman PM pertama Malaysia yang mundur karena krisis politik setelah 12 tahun memerintah.

RAMALAN itu boleh-boleh saja. Tapi menurut hemat kita Mahathir yang sudah 18 tahun memerintah, dengan legitimasi Pemilu 1999 akan bisa bertahan. Dengan pengalaman memerintah, berhasil menciptakan mesin politik dan ekonomi yang kuat, Mahathir akan tetap masih kuat. Kalangan etnis Cina Malaysia yang jumlahnya 30 persen dari 22 juta penduduk, juga sebagian besar akan mendukung Barisan Nasional. Apalagi tokoh oposisi Lim Kit Siang terjungkal, meskipun Parti Tindakan Demokratiknya menambah 3 dari jumlah semula 7 kursi.

Penarikan dukungan sebagian warga keturunan ini bisa terjadi, apabila Pas sebagai barisan utama oposisi tetap mempromosikan isu-isu sektarian dan keagamaan. Jadi Mahathir, serta UMNO dan Barisan Nasional sebagai partai berkuasa, menjadi penampung dari sebagian pemilih yang merasa legitimasi politiknya rapuh bila berpihak pada oposisi, yakni Pas dan Parti Tindakan Demokratik.

Suara Pembaruan Rakyat



Diterbitkan oleh : Tranung Kite Cyberlink Millenium 2000
Laman Web : http://tranung.tripod.com/ dan Email : dppkd@hotmail.com