Bumi Bengkulu yang indah permai, dulunya merupakan
satu pusaka rakyat Sumatra. Negerinya yang aman dan
damai serta penduduknya hidup dalam segala
kesederhanaan dan kecukupan.
Kedatangan kaum penjajah indonesia ke bumi Bengkulu
telah merusak negeri tersebut, menghancurkan budaya
negeri Sumatra yang dimiliki oleh rakyat Bengkulu,
serta menghancurkan sopan santun yang selama ini
dimiliki oleh rakyat Negeri Bengkulu. Rakyat Melayu di
negeri Bengkulu yang selama ini dikenal dengan adab
sopan santun, berakhlak, dan lebih menunjukkan sifat
relegius yang dimilikinya telah dirusak oleh budaya
songsang dan budaya hina yang dibawa oleh kaum
penjajah indonesia yang majoritinya berkaum Jawa yang
datang dengan dalih transmigrasi yang diprogramkan
oleh Soeharto. Sebenarnya niat buruk dan jahat
Soeharto adalah untuk menguasai dan menghancurkan tata
kehidupan bangsa-bangsa di Sumatra dengan jalan
mengirim berjuta-juta kaum bangsanya yang telah rusak
moralnya di pulau Jawa. Mereka yang dipindahkan ke
Pulau Sumatra adalah kumpulan-kumpulan pelacur,
penjahat, narapidana/banduan, serta jenis-jenis
manusia lainnya yang dari segi moral dan akhlaknya
sudah tidak bisa lagi disebut manusia.
Maka penuhlah Negeri Bengkulu dengan berbagai maksiat,
pelacuran, perjudian, perampokan, pergaulan lelaki dan
wanita yang diibaratkan seperti binatang. Inilah
antara akhlak yang dimiliki oleh keturunan-keturunan
yang berasal dari penjajah indonesia. Jadi tidak heran
kalau di pulau Jawa itu ada "Kramat Tunggak" dan yang
lainnya, ada pesta malam yang penuh dengan
mabuk-mabukan arak dan pelacuran. Sebab itu adalah
sebahagian budaya yang dimiliki oleh penjajah
indonesia dan yang setia kepada majikannya itu. Ramai
anak haram di luar nikah lahir di sana dan ramai
diantara mereka yang telah menjadi pemimpin kaum yang
jahil dan zalim itu. Diantaranya termasuklah Soekarno
dan Soeharto. Habibie dan Gusdur juga masih perlu
dikaji proses kelahirannya. Adakah mereka lahir hanya
beberapa hari selepas "ibu dan ayah" mereka menikah.
Jika tidak demikian, maka mereka pula tidak akan
membiarkan bangsa lain tertindas di bawah rezim yang
mereka pimpin. Kalau tidak demikian, tidak ada alasan
bagi mereka untuk tidak mau membiarkan bangsa lain
untuk merdeka dari penindasan mereka.
Gempa bumi yang menelan banyak nyawa di Bengkulu
adalah satu bala bencana Allah kepada kemaksiatan yang
bermaharajalela di atas bumi Bengkulu. Bencana gempa
itu pula patut menjadi "Jam pembangkit tidur" bagi
rakyat negeri Bengkulu untuk terjaga dan bangun
menghalau kaum penjajah indonesia yang sangat zalim
dan durjana.
Bangkitlah wahai rakyat Bengkulu, sapulah kemaksiatan
di atas negeri Bengkulu. Halaulah kaum penjajah
indonesia yang sangat keji dan durjana itu.
Selamat bangkit dengan "Lonceng Gempa" yang baru saja
dibunyikan oleh Mahakuasa dan Mahapencipta.
warwick aceh