Drs. Abu Deedat Syihab M.H:
Astriana Damayanti (25) -bukan nama sebenarnya- tak
pernah berpikir menukar
agama. Sejak kecil ia menerima pendidikan agama yang
cukup baik. Terakhir
ia tercatat sebagai mahasiswi sebuah institut agama
Islam.
Perkenalannya dengan seorang pemuda membuat
nasibnya bercerita lain. Ia
hamil dan sempat bertukar agama. Kini Astriana
menjalani konsultasi agama
dengan Drs. Abu Deedat, seorang kristolog, untuk
mengembalikan akidahnya.
Menurut ustadz berkacamata ini, muslimah memang
menjadi target kristenisasi
di Indonesia. Untuk mengenali modus operandinya,
reporter UMMI, Asmawati,
mewawancarai beliau di rumahnya di kawasan Bekasi.
Sejak kapan modus penjeratan muslimah dilakukan oleh
aktivis gereja?
Sebenarnya modus ini sudah lama terjadi, cuma
sekarang lebih banyak bukti
konkritnya. Ini disebabkan target mengkristenkan
penduduk Indonesia pada
tahun 2000. Mereka melakukan segala cara untuk
memenuhi target itu, di
antaranya dengan menjerat muslimah.
Bagaimana cara mereka dalam menjerat muslimah?
Pertama mereka mengarahkan perhatian pada kaum
muslimah yang mentalnya
sedang terganggu karena menghadapi berbagai masalah.
Misalnya, orang tuanya
sedang sakit atau baru meninggal. Seperti yang
sedang menimpa siswi
Madrasah Aliyah di Bekasi. Ayah gadis ini baru
saja meninggal. Kondisi
mentalnya belum begitu stabil. Datanglah seorang
laki-laki yang memberikan
perhatian padanya. Laki-laki ini aktivis gereja.
Sekarang kami sedang
berusaha menyelamatkan akidah sang gadis. Cara
lain yang banyak kami
temukan adalah lewat hipnotis atau obat bius. Cara
seperti itu kan mudah
saja, cukup dengan tatapan mata atau melalui
minuman. Itulah cara-cara
mereka.
Kelihatannya mereka cukup nekad?
Tampaknya ada unsur pemaksaan, seperti kasus Wawah
di Sum-Bar. Ini bukan
kasus pertama maupun yang terakhir. Mereka
bilang, hal-hal seperti itu
tidak diprogramkan. Tapi di lapangan, ini yang
terjadi. Kesannya memang
cukup radikal ya. Barangkali untuk mengejar target.
Apa sih target mereka?
Dalam kongres di Inggris tahun ?89 ditargetkan
pada tahun 2000 penduduk
dunia ini paling tidak 50% penduduk dunia ini
harus menjadi pengikut
Kristen. Kemudian harus pula disebarkan pemahaman
Kristen, atau Bibel itu
ke seluruh dunia. Seperti juga misinya Doulos,
dimana tahun 2000
ditargetkan 125 suku yang ada di Indonesia harus jadi
pengikut Kristus, itu
sekitar 160 juta jiwa. Berarti sasarannya termasuk
juga umat Islam.
Kembali soal penjeratan muslimah, setelah menikah apa
yang mereka lakukan?
Setelah wanita itu terpedaya, sebagian mereka
langsung menunjukkan jati
dirinya. Biasanya sang gadis ini tak dapat
berbuat apa-apa daripada
mendapat malu, misalnya, karena sudah hamil. Sebagian
lagi, sampai menikah
tak membuka rahasia. Tapi selama masa
perkawinan para aktivis ini
menjauhkan akidah Islam dari si istri. Bahkan ada
suami yang membakar
mukena dan sajadah istrinya agar ia tak bisa sholat.
Suami mencuci otak istrinya, misalnya, memberikan
ayat-ayat Alquran yang
diputarbalik. Begitu terus sampai istrinya
terpengaruh dan akhirnya masuk
Kristen, bahkan menjadi aktivis gereja. Muslimah yang
kuat imannya, mungkin
masih bisa bertahan, tapi yang lemah hancurlah dia.
Bagaimana cara pertemuan pertama mereka?
Awalnya mungkin hanya perkenalan biasa. Aktivis
gereja ini akan menjajaki
kekuatan muslimah. Ketika ia lemah, maka
ia masuk dengan
jeratan-jeratannya. Jangan lupa dengan cara hipnotis
tadi.
Apakah pihak Kristen mengakui cara-cara itu?
Pihak Kristen sendiri tak mengakui upaya-upaya
gencar mereka untuk
memurtadkan umat Islam. Tapi di lapangan nyatanya
semakin merajalela dengan
berbagai cara. Menurut H. Berkhof dalam buku
"Sejarah Gereja" hal 321
menyatakan Indonesia itu memang lahan subur untuk
Kristenisasi.
Bagaimana muslimah mempersiapkan diri menghadapi
jeratan itu? Pertama
muslimah harus mempunyai pemahaman Islam yang kuat.
Kedua, muslimah harus
mengetahui gerak-gerik musuh dan tipu dayanya. Ini
dapat dipelajari antara
lain dengan mempelajari kristologi.
Untuk muslimah yang berpendidikan mungkin mudah,
bagaimana dengan yang
tingkat pemahamannya kurang?
Ya, disesuaikan dengan tingkat pemahaman mereka.
Kalau di kalangan atas
tentu caranya beda dengan di kalangan bawah.
Apa yang harus kita lakukan bila melihat upaya
Kristenisasi? Pertama,
sampaikan Al Islam secara baik kepada umat kita.
Berikan pemahaman yang
benar. Lihat apa yang mereka lakukan. Kalau radikal
atau amoral, kita kan
negara hukum laporkan pada aparat. Amoral, misalnya
diperkosa. Tapi kalau
dengan pembagian sembako, ya tentunya muslim harus
lakukan hal yang sama.
Kita lho yang berkewajiban da?wah bil hal,
memberikan bantuan sehingga
saudara-saudara kita tidak terbawa rayuan mereka.
Kalau mereka lakukan dengan penyebaran buku-buku dan
brosur-brosur yang
merugikan Islam atau menjungkirbalikkan ajaran-ajaran
Al Quran ada dua hal
yang kita dapat lakukan. Pertama, kita luruskan
pemahaman-pemahaman yang
keliru. Kedua, laporkan kepada pihak yang berwajib
karena masalah pelecehan
agama, sudah ada aturan hukumnya. Berikan wawasan pada
umat tentang bahaya
Kristenisasi. Intinya adalah kembali pada pemantapan
akidah.
(Dwi
Septiawati/Asmawati)
Wassalamu'alaikum Warahmatullahi Wabarokaatuh
(DI-23/05/00)
Source : Majalah Ummi, May 2000