SUMBANGAN MEMBANTU LAMAN INI
Bank Islam Cawangan Dungun No : 13044-01-0009696 Nama Pemegangan : Dewan Pemuda Pas Kawasan Dungun JALAN SALAF JAMINAN KEBENARAN“Kembali kepada Al Quran dan As Sunnah” telah menjadi slogan umum. Namun memahami keduanya dan mengamalkan kandungannya merupakan persoalan tersendiri. Agar sesuai dengan yang dimahukan Rasulullah Kepada siapa kita harus merujuk? Siapakah yang dimaksudkan dengan Ahlus Sunnah wal Jama’ah dan manhaj (jalan/method) yang mereka tempuh. Mereka bukanlah manusia khusus yang diciptakan oleh Allah untuk membawa amanat syariat-Nya. Juga bukan malaikat yang diutus oleh Allah untuk mengajarkan manusia tentang agama-Nya. Mereka adalah kaum muslimin itu sendiri yang memahami agamanya dengan benar berdasarkan Al Quran dan As Sunnah di atas pemahaman salafus shalih (pendahulu yang shalih). Mereka (para shahabat ridhwanullah ‘alaihim ajma’in) adalah umat terbaik yang diciptakan untuk mendakwahkan kebenaran agama ini kepada seluruh umat. Mereka adalah generasi terbaik umat ini dari kalangan shahabat, tabi’in dan tabi’ut tabi’in, serta orang-orang yang mengikuti mereka di atas kebenaran. Mereka adalah salafus shalih, firqatun najiyah (orang-orang yang selamat), thaifah al manshurah (orang-orang yang selalu ditolong), ahlul hadis, ahlul atsar, dan mereka adalah salafiyyun. Mereka adalah pilihan Allah dari segenap hamba-Nya yang akan menyuarakan kebenaran di mana sahaja dan sepanjang masa, bagaimanapun besar tentangan dan rintangan yang dihadapi. Slogan mereka adalah firman Allah: “Kebenaran itu datang dari Rabbmu, maka janganlah kamu sekali-kali termasuk orang-orang yang ragu.” (Al-Baqarah: 147) Juga sabda Rasulullah “Katakan yang benar walaupun pahit dan jangan kamu gentar cercaan orang yang mencerca.” ( HR. Al Baihaqi dalam Kitab Syu’abul Iman dari shahabat Abu Dzar. Lihat Al Misykat 3/ 1365) Dari sinilah nama salafus shalih diabadikan oleh sejarah. Ditulis dengan tinta emas, terus dikenang, serta menjadi rujukan generasi sesudahnya. Bukankah ini merupakan satu kemuliaan dari Allah kerana apa yang telah mereka berikan untuk agama-Nya? Dan kerana apa yang mereka tempuh ketika Rasulullah masih hidup dan setelah wafat beliau? Jawapannya adalah ya. Mereka mendapatkan yang demikian ini kerana mereka berjalan di atas jalan Rasul-Nya. Abu Bakar, khalifah pertama yang menggantikan Rasulullah sebagai pemimpin umat ini, telah mendapatkan jaminan masuk syurga, padahal ketika itu beliau masih hidup. Bukankah ini kemuliaan bagi beliau? Apakah manhajnya Abu Bakar sesuai manhajnya Rasulullah? Jawapannya tentu ya. Begitu juga Umar, Utsman, Ali, dan para shahabat yang lain yang telah mendapatkan jaminan dari Rasulullah untuk masuk syurga, padahal kaki-kaki mereka masih menapaki kehidupan. Merekalah yang juga disebutkan oleh Allah di dalam Al Quran: “Merekalah orang-orang yang telah diberikan nikmat oleh Allah dari kalangan para nabi, orang-orang yang jujur, orang-orang yang mati syahid dan orang-orang shalih”. (An-Nisaa’: 69) Siapa lagi yang dimaksud dalam ayat ini setelah para nabi, kalau bukan orang-orang yang mengikuti mereka di atas manhaj Allah dari kalangan shahabat? Mereka adalah generasi yang berusaha untuk duduk dan keluar mendapatkan dan mengambil warisan terbanyak dari Rasulullah dalam keadaan membawa kemurnian agama Islam, yang dari majlis Rasulullah malamnya seperti siangnya dan tidak ada seorangpun dari mereka yang menyimpang, melainkan akan binasa seumur hidup jika tidak segera bertaubat kepada Allah. Rentang waktu yang panjang sangat memungkinkan menyebabkan jauhnya umat dari kemurnian ajaran Islam. Apalagi, umat ini terus berganti generasi demi generasi. Hal ini telah dirasakan dan disaksikan oleh orang-orang yang diberikan bashirah (ilmu) oleh Allah. Banyak kita jumpai penampilan Islam yang berwarna-warni, baik dari amalan, ucapan, dan keyakinan. “Warna-warni” inilah yang sering menimbulkan friksi di antara sesama muslim hingga berhujung pada pudarnya persatuan dan kesatuan umat Islam. Walhasil, umat ini menjadi sangat lemah dan siap menjadi santapan musuh-musuhnya. Munculnya kelompok-kelompok di dalam Islam, merupakan bukti konkrit adanya perbezaan yang besar dan warna-warninya penampilan Islam itu. Yang satu berpakaian serba merah dan mengangkat Islam sebagai simbol. Yang lain dengan warna hijau, hitam, kuning, putih, dan sebagainya. Masing-masing memiliki konsep, prinsip, jalan, dan tujuan yang berbeza dengan yang lainnya. Bahkan, kerana perbezaan mendasar itu, ada yang siap menumpahkan darah yang lainnya. Apakah demikian Islam itu? Lalu manakah yang benar? Dan manakah yang harus diikuti? Yang demikian ini, setelah berlalunya masa risalah (masa kenabian) dan pergantian generasi demi generasi, sangat terasa. Ironisnya, Islam dalam pandangan kaum muslimin saat ini hanya sebatas “yang penting Islam”, apapun alirannya, ajarannya, warnanya, jalannya, baunya, dan sebagainya. Padahal justeru dengan sebab ini, hilanglah kemuliaan, kewibawaan, kejayaan, dan kekuatan umat Islam. Serta menjadikan musuh-musuh Islam berani dan memiliki kewibawaan di mata kaum muslimin. Kemurnian dan kesempurnaan Islam itu pun kian jauh panggang dari api. Yang satu ingin menambah dan yang lain ingin mengurangi, bahkan mempretelinya. Hanya dengan mencari sumber kemurniannya kepada orang yang telah dinobatkan oleh Allah (para shahabat, tabi’in dan tabi’uttabi’in) sebagai penelusur jejak Rasulullah, nescaya kemurnian Islam itu akan diperoleh. Selain sebagai cermin kemurnian Islam, manhaj salaf juga merupakan perwujudan redha Allah, cinta, dan ampunan-Nya. Allah berfirman tentang mereka yang berjalan di atas manhaj salaf ini: “Orang-orang yang terdahulu lagi yang pertama-tama (masuk Islam) di antara orang-orang Muhajirin dan Anshar dan orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik, Allah redha kepada mereka dan merekapun redha kepada Allah dan Allah menyediakan bagi mereka syurga-syurga yang mengalir sungai-sungai di dalamnya. Mereka kekal di dalamnya selama-lamanya. Itulah kemenangan yang besar.” (At-Taubah: 100) As Sa’dy dalam tafsir ayat ini mengatakan, mereka adalah orang-orang yang lebih dahulu masuk Islam dan yang terlebih dahulu dalam keimanan, hijrah, jihad, dan memperjuangkan agama Allah. Kaum Muhajirin, adalah orang-orang yang dikeluarkan dari negeri mereka dan dipisahkan dari harta benda mereka, semata-mata hanya mencari keutamaan dari Allah dan keredhaan-Nya. Mereka membela agama Allah dan Rasul-Nya, dan mereka adalah orang-orang yang jujur. Sementara kaum Anshar, adalah orang-orang yang menetap di kota Madinah, mencintai orang-orang yang berhijrah. Mereka tidak dihinggapi perasaan berat hati atas apa-apa yang mereka infakkan kepada kaum Muhajirin, serta mengutamakan kaum Muhajirin meskipun mereka memerlukannya. Merekalah kaum yang mendapatkan keselamatan dari cercaan dan mendapatkan pujian dan keutamaan dari Allah. Allah meredhai mereka dan mereka redha kepada Allah. Allah mempersiapkan bagi mereka syurga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai dan kekal di dalamnya. Di dalam Al Quran Allah berfirman: “Katakanlah: ‘Jika kamu (benar-benar) mencintai Allah, ikutilah aku, nescaya Allah mengasihi dan mengampuni dosa-dosamu.’ Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (Ali-Imran: 31) As Sa’dy dalam tafsirnya mengatakan: “Ayat ini merupakan tolok ukur cinta seseorang kepada Allah dengan sebenar-benarnya cinta atau hanya pura-pura mengaku cinta. Adalah tanda cinta kepada Allah ittiba’, yang(mengikuti) Rasulullah telah menjadikan sikap ini. Allah (ittiba’) dan segala apa yang dan tidak diserukan sebagai jalan untuk mendapatkan cinta dan redha Allah, redha dan pahala-Nya, melainkan dengan akan didapati kecintaan dari Allah sebagaimana yang ada di dalam Al quran. cara membenarkan apa yang dibawa Rasulullah Al Quran dan As Sunnah, dengan cara melaksanakan apa yang dikandung keduanya, dan menjauhi apa yang dilarangnya. Maka barangsiapa melakukan hal ini, sungguh ia, dibalas sebagaimana balasan terhadap kekasih Allah, telah dicintai oleh Allah, diampuni dosanya, dan ditutupi segala aibnya. Maka (ayat ini) seakan-akan dan bagaimana sifatnya.”(menjelaskan) bagaimana hakikat mengikuti Rasulullah. Meskipun Islam semakin kabur, namun pewaris kemurnian Islam akan tetap ada sepanjang kehidupan untuk manusia ini sampai hari kiamat. Mereka telah dipersiapkan oleh Allah dan generasi beliau yang terbaik. Merekalah meneruskan perjuangan Rasulullah yang akan terus menyuarakan kemurnian Islam dan bersama merekalah kemenangan yang tidak dapat disangkal akan kejayaannya. Itulah janji Allah sebagai generasi pejuang yang telah mereka lakukan. Merekalah yang disebut Rasulullah yang diwariskan setelah wafatnya, untuk mengambil pedang perjuangan Rasulullah dan mereka membuat gerakan-gerakan menegakkan syariat Allah sebagai perisai dan benteng terhadap kebenaran. Allah menjelaskan di dalam Al Quran dalam pertarungan antara yang hak dan batil. : “Sesungguhnya Kamilah yang menurunkan Al Quran dan sesungguhnya Kami benar-benar memeliharanya.” (Al-Hijr: 9) Syaikh Muhammad bin Shalih Al Utsaimin di dalam kitab Syarah Aqidah Wasithiyyah hal.25 mengatakan, “Akan tetapi semua pujian bagi Allah semata. Tiadalah seseorang membangkitkan -dengan nikmat dan melakukan kebid’ahan, melainkan Allah kurnia-Nya- orang-orang yang akan menjelaskan kebid’ahan tersebut dan yang akan melumatkannya dengan kebenaran. Dan ini termasuk dari makna yang terkandung di dalam firman Allah (Al-Hijr: 9). Dan ini merupakan wujud nyata penjagaan Allah terhadap “Ad Dzikr” (maksudnya Al Quran,) dan ini juga merupakan tuntutan hikmah Allah. Rasulullah bersabda dalam hadis yang diriwayatkan Imam Al Bukhari dan Muslim dari shahabat Mua’wiyah dan Mughirah bin Syu’bah dan diriwayatkan Imam Muslim dari shahabat Tsauban, Jabir bin Samurah, Jabir bin Abdillah, Sa’ad bin Abi Waqqash, dan Abdullah bin ‘Amr bin ‘Ash radhiallahu ‘anhum: “Terus menerus ada sekelompok kecil dari umatku memperjuangkan kebenaran. Tidak akan memudharatkan mereka orang-orang yang berusaha menghinakan mereka sampai datang keputusan Allah dan mereka tetap dalam keadaan yang demikian itu.” (Shahih, HR. Muslim dengan lafadznya) Siapakah yang dimaksud oleh Rasulullah “satu kelompok dari umatnya itu yang selalu memperjuangkan kebenaran dan selalu mendapatkan kemenangan?” Imam Ahmad mengatakan: “ Kalau bukan ahli hadis yang dimaksud, maka saya tidak mengetahui (lagi) siapa mereka”. Umar bin Hafsh bin Ghiyats mengatakan: “Aku telah mendengar ayahku ketika ditanyakan kepadanya: ‘Tidakkah kamu melihat ahlul hadis dan apa-apa yang mereka berada di atasnya?’ Dia menjawab: ‘Mereka adalah sebaik-baik penduduk dunia’.” Abu Bakar bin ‘Ayyash mengatakan, “Aku berharap bahawa ahlul hadis adalah sebaik-baik manusia.” (Lihat kitab Makanatu Ahlil Hadits hal 53-54). Rasulullah bersabda: “Tidak ada seorangpun dari nabi yang diutus sebelumku kepada suatu umat melainkan ada pada umatnya hawariyyun (para pembela) dan shahabatnya yang memegang sunnahnya dan yang mengikuti perintahnya.” (HR. Bukhari dan Muslim dari shahabat Abdullah bin Mas’ud) Rasulullah bersabda: “Sesungguhnya Allah akan membangkitkan pada setiap awal seratus tahun orang-orang yang akan mengadakan pembaharuan terhadap agama umat ini.” (Shahih, HR. Abu Daud dari shahabat Abu Hurairah dan dishahihkan Syaikh Al Albany dalam kitab “Shahih Sunan Abu Daud no. 3656” dan di dalam kitab “Silsilah Hadis Shahih no. 599” dan di dalam kitab “Shahih Jami’us Shaghir no. 1874”). Imam Ahmad bin Hanbal berkata, sebagaimana dinukil Imam Dzahabi dalam kitab As Siar 10/46 : “Sesungguhnya Allah akan membangkitkan pada umat di awal setiap seratus tahun orang-orang yang akan mengajarkan mereka sunnah dan membungkam setiap kedustaan atas nama Rasulullah. Maka tatkala kami melihat dan memeriksa, ternyata pada awal seratus tahun pertama muncul Umar bin Abdul Aziz dan pada seratus tahun kedua Imam Syafi’i.” (Lihat Silsilah Hadis Shahih 2/148) Manhaj inilah yang mendapatkan pujian kebaikan dari lisan Rasulullah berikut dengan orang-orang yang berjalan di atasnya, sebagaimana sabda beliau: “Sebaik-baik manusia adalah generasiku, kemudian orang-orang setelah mereka, dan kemudian orang-orang setelah mereka.” (Shahih, HR. Bukhari dan Muslim dari shahabat Imran bin Husein dan Abdullah bin Mas’ud) Maka, para pengikut manhaj ini adalah generasi terbaik yang diredhai oleh Allah. Di dalam kitab Manhajus Salaf Fit Ta’amul Ma’a Kutubi Ahlil Bida’i hal. 3 karya Abu Ibrahim Muhammad bin Muhammad bin Abdillah bin Mani’ dikatakan: “Pujian kebaikan menunjukkan kebenaran akidah, tidak akan mencukupkan mereka mengikuti Rasulullah.” . Usaha penyaringan terhadap segala hal yang bukan berasal dari ajaran Islam, baik dalam hal Akidah, Ahkam (hukum) mahupun Akhlak, selayaknya terus dilakukan, agar Islam kembali bersih berseri, murni dalam naungan risalah sebagaimana risalah yang telah diturunkan kepada Muhammad Shalallahu 'alaihi wa Sallam dan diajarkan pada Sahabatnya, yang diteruskan oleh pengikutnya hingga hari kiamat. Maka untuk tujuan tersebut, perlulah ditekankan aspek pendidikan atas generasi muslim dengan Islam yang murni dengan Tarbiyah Imaniyyah (pendidikan keimanan), sehingga membekas di lubuk hati para kader Islam. Maka disinilah peranan Dakwah Salafiyyah, yang berpegang dengan pemahaman Rasulullah beserta Sahabatnya, yang terus berupaya menegakkan tonggak Islam di atas tonggak yang mengukuhkan Islam di masa lalu. Menjadi suatu keharusan mutlak bagi setiap Muslim, yang menginginkan kesuksesan dan merindukan kehidupan yang mulia, serta kemenangan di dunia dan di akhirat, bahawa dalam memahami Al Quran dan As Sunnah yang shahih harus dengan pemahaman Muslimin yang terbaik (Salaful Ummah) iaitu para Sahabat Rasulullah dan Tabi'in (murid Sahabat), serta siapapun yang mengikuti jalan mereka dengan baik hingga hari kiamat. Dipilihnya method ini, kerana tidak dapat dibandingkan (dengan siapapun, selain dengan Rasulullah) kelurusan, kebenarannya, dalam fikrah, pemahaman dan manhaj yang lebih benar dan lebih lurus dibandingkan dengan pemahaman dan manhaj Salafus Shalih (jalannya para Salaf yakni Sahabat Rasulullah, Tabi'in dan Pengikutnya, yang Shalih hingga hari kiamat). Oleh kerana itu tidak akan pernah dicapai baik kehidupan umat yang akhir ini kecuali dengan apa yang telah menjadikan baik generasi awal. Apabila kita meneliti dengan saksama dalil-dalil dari Al Quran mahupun As Sunnah serta ijma' dan qiyas maka dapatlah disimpulkan dari dalil-dalil tersebut tentang wajibnya memahami Al Quran dan As Sunnah dalam bimbingan manhaj Salafus Sholih, kerana itu merupakan pemahaman yang disepakati kebenarannya sepanjang abad perjalanan dakwah ini. Maka itu tidak dibenarkan bagi sesiapa sahaja, setinggi apapun kedudukannya, memahami Islam ini selain pemahaman Salafus Sholih (pemahamannya dapat dilihat di tafsir Al Quran karya para Sahabat, penjelasan hadis dalam kitab-kitab Hadis dan tulisan-tulisan para Sahabat & pengikutnya). Dan siapapun juga yang membenci pemahaman Salaf lalu menggantinya dengan bid'ah-bid'ah orang belakangan (orang-orang sesudah generasi Salaf ) yang diracuni dengan berbagai pemahaman yang membahayakan dan yang tidak selamat dari pemahaman asing, akan mengakibatkan tercerai-berainya kamu muslimin. Sesungguhnya Salafus Shalih Radiyallahu anhum telah nyata kebaikan mereka baik dalam nash maupun istimbat, Allah berfirman dalam surat At-Taubah ayat 100. "Dan generasi yang terdahulu dan pertama-tama (masuk Islam) di antara kaum Muhajirin dan Anshar serta orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik, Allah telah redha kepada mereka (Muhajirin & Anshar = Sahabat/Salafus Sholih) dan mereka redha kepada Allah dan Allah menyediakan bagi mereka syurga-syurga yang mengalir sungai-sungai di dalamnya mereka kekal di dalamnya selama-lamanya. Itulah kemenangan yang agung. Dengan dalil ayat ini (QS At Taubah 100) dapat diambil pemahaman bahawa Allah Sang Pencipta telah memuji terhadap mereka yang mengikuti kepada sebaik-baik manusia. Telah diketahui bahawa apabila sebaik-baik manusia itu mengatakan suatu perkataan, kemudian ada seseorang yang mengikuti mereka, maka dia wajib untuk mendapatkan pujian dan berhak untuk mendapatkan keredhaan. Kalau seandainnya sikap ittiba' mereka tidak membezakan dengan selain mereka (yang tidak ittiba') maka dia tidaklah berhak mendapatkan pujian dan keredhaan. Siapakah sebaik-baik manusia itu? Mereka adalah para shahabat dan orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik, sebagaimana disebutkan dalam Al Quran surat Al Bayyinah : 7 "Sesungguhnya orang-orang yang beriman dan beramal shalih merekalah sebaik-baik manusia". Allah berfirman dalam surat Ali Imran : 110 : "Kalian adalah umat terbaik yang telah ditampilkan untuk manusia, kalian telah beramar makruf dan bernahi munkar dan beriman kepada Allah". Dari sini kita mendapatkan petunjuk bahawa Allah telah memuji dan menyatakan keutamaan mereka (Sahabat) atas segala umat, dan apabila ingin dipuji ALLAH juga, maka ummat ini harus istiqamah dalam segala hal mengikuti Salafus Sholih. Disamping itu Salafus Sholih sesungguhnya memang tidak pernah menyimpang dari cahaya (petunjuk Ilmu Al Quran dan Sunnah) yang terang benderang (Al Haq) ini. Maka jika ada yang berkata :"Ini (gelar sebaik-baik umat) bersifat umum dalam umat ini, tidak hanya terbatas pada generasi Sahabat sahaja,"saya katakan bahawa mereka (para sahabat) adalah objek pembicaraan yang pertama, dan orang yang mengikuti mereka dengan baik tidak termasuk dalam pembicaraan ayat di atas, kecuali kalau ada penjelasan dengan qiyas atau dalil lain sebagaimana dalam dalil pertama. Secara umum dan ini yang benar, Sahabat adalah yang pertama kali masuk dalam objek pembicaraan kerana merekalah yang pertama kali mengambil ilmu dan amal langsung dari Rasullullah Shalallahu 'alaihi wa salam tanpa perantara, dan merekalah yang mendapat khabar gembira dengan wahyu ini. Oleh kerana itu, merekalah yang paling pertama masuk dalam pembicaraan ayat ini dibanding yang lain disebabkan sifat-sifat yang telah diberikan kecuali kepada mereka (para Sahabat). Pun kecocokan sifat dengan pensifatan Allah adalah merupakan bukti bahawa mereka lebih berhak mendapatkan pujian daripada yang lain. Sabda Rasullullah Shalallahu 'alaihi wa salam : "Sebaik-baik manusia adalah generasiku (generasi Rasulullah & Shahabat), kemudian orang-orang sesudah mereka (Tabi'in) kemudian orang-orang sesudah mereka (Tabi'ut Tabi'in.). Sesudah itu akan datang kaum yang kesaksian mereka mendahului sumpahnya dan sumpahnya mendahului kesaksiannya." (HR. Bukhari IV/189, Muslim VII/184-185, Ahmad I/424 dll). Apakah kebaikan yang ditetapkan kepada para Sahabat yang dimaksudkan adalah dalam hal bentuk mereka? Atau jasad mereka, harta mereka, tempat tinggal mereka, atau ?? Tidak diragukan lagi bagi orang yang memiliki akal yang sempurna, memahami Al Quran dan As Sunnah dengan benar, bahawa bukan itu semua yang dimaksudkan di sini, sama sekali bukan. Rasulullah Shalallahu 'alaihi wa salam tidaklah berbicara dengan hawa nafsunya. Apa sahaja yang berasal darinya adalah Ar-Rusyd (Al Haq) dan Al Huda (petunjuk). Para sahabat semuanya adil (jujur). Mereka tidak berbicara kecuali dengan jujur dan tidak beramal kecuali dengan haq. Demikian para sahabat. Mengikuti mereka akan memberi keselamatan dari kegelapan syahwat (kebrutalan hawa nafsu) dan subhat (bahaya pengaburan), dan siapapun yang berpaling dari pemahaman para sahabat maka dia berada dalam kesesatan di mana kegelapan demi kegelapan semakin melilitnya sehingga kalau dia menghulurkan tangannya hampir tidak akan terlihat. Dengan pemahaman sahabat, kita membentengi Al Quran dan As Sunnah dari berbagai bid'ah setan dari jenis manusia ataupun jin. Mereka hanya menginginkan timbulnya fitnah dan menghendaki takwilnya untuk merosakkan apa yang dimaksudkan Allah dan Rasul-Nya. Maka pemahaman sahabat radhiallahu anhum adalah benteng dari segala keburukan dan benteng dari sebab-sebab yang menimbulkannya. Kalau pemahaman para sahabat tidak boleh dijadikan hujjah maka mustahil pemahaman generasi setelah para sahabat menjaga pemahaman para sahabat dan menjadi benteng baginya. Apabila pengkhususan dan pembatasan ini ditolak iaitu wajibnya memahami Al Quran dan as Sunnah yang shahih dengan pemahamannya ' maka akan semakin jauhlah seorang muslim dari "kebenaran yang mutlak," dan (yang lebih buruk lagi) berbagai firqah dan parti akan menjadi terhalang untuk kembali ke jalan yang benar. Sesungguhnya Al Quran dan As Sunnah adalah merupakan penangkal berbagai pemahaman yang menyimpang seperti : Mu'tazilah, Murji'ah, Jahmiyyah, Syi'ah, Tasawwuf/Sufi, Khawarij, Bathiniyyah, dan selain mereka, maka tidak boleh tidak harus ada pemisahan. Siapakah Ahlul Hadis/Ahlusunnah? Mereka yakni siapa-siapa yang berjalan di atas jalan Sahabat Rasulullah dan mengikutinya dalam perkara kebaikan, dalam mengamalkan Kitab (Al Quran) dan Sunnah, dengan menggigit (keduanya) dengan gigi geraham mereka (berpegang teguh), dan memahami secara tepat (iaitu Quran dan Sunnah), (yang keduanya) harus didahulukan daripada pengucapan atau perkataan siapapun dan bertindak di atasnya – mengimaninya, atau beramal dengannya dalam bentuk dan jenis peribadahan, tindakan, politik atau hidup sehari-hari. Mereka adalah pihak yang secara bersungguh-sungguh memperhatikan pokok agama dan cabang-cabangnya, yang telah Allah turunkan dan sampaikan kepada Nabi Muhammad dan utusanNya Shallallahu ‘alaihi wasalam. Mereka adalah siapa-siapa yang melancarkan dakwah untuk itu dengan segenap usaha, ketulusan dan pendirian mereka. Mereka akan sentiasa membawa serta ilmu dari Nabi (Shallallahu ‘alaihi wasalam), mengikis penyimpangan dalam sikap mereka yang berlebih-lebihan dalam menghormati beliau (Shallallahu ‘alaihi wasalam), juga klaim yang tidak pada tempatnya dari orang-orang yang menyimpang serta penafsiran orang-orang yang lemah akal. Mereka adalah siapa-siapa yang bersiaga dan menentang tiap-tiap kelompok yang telah menyimpang dari jalan Islam, seperti Jahmisme (Jahmiyah) dan Mu'tazilisme (Mu’tazilah), Khawarij dan Rawafidz (Syiah Rafidah), Murji'ah dan Qadariyyah dan semua dari mereka yang sudah menyimpang dari jalan Allah yang hanya mengikuti hawa nafsu mereka, mereka selalu menentangnya dalam setiap kesempatan di berbagai tempat, dan mereka tidak terpengaruh oleh celaan orang-orang yang mencela, dalam mencari keredhan Allah. Mereka adalah kelompok yang Nabi Allah Shallallahu ‘alaihi wasalam telah memujinya dengan sabda pujian beliau, " Akan terus-menerus muncul (tidak akan lenyap) suatu kelompok dari ummatku yang di atas kebenaran, (mereka) tidak dirugikan oleh yang meninggalkannya dan juga oleh yang menentangnya sampai waktu yang ditentukan (Hari Kiamat)." Mereka adalah golongan yang diselamatkan, yang mengacu di atas apa yang Nabi dan Shahabatnya di atasnya, mereka yang telah dipisahkan dan digambarkan oleh Nabi Allah Shallallahu ‘alaihi wasalam ketika beliau menyebutkan bahawa ummat (Islam) akan terpecah dalam 73 golongan, seluruhnya masuk api Neraka kecuali satu dan seperti yang beliau telah sabdakan, "(Sahabat bertanya) Siapa mereka, ya Nabi Allah?" Rasulullah bersabda, " Mereka adalah yang di atas apa yang aku dan sahabatku di atasnya hari ini." Dan apa yang kita katakan bukanlah semata-mata klaim belaka, tetapi kita bersungguh-sungguh dalam berbicara sesuai kenyataan bahawa yang nampak teks Al Quran dan Sunnah saksinya, sejarah telah mencatat, bahawa kenyataan tentang mereka ( iaitu Ahlul-Hadis/Ahli Hadis), kenyataan mereka, karya-karya tulisan mereka dan amalan mereka menjadi saksi. Ahlul Hadis menempatkan perhatian mereka dan mengedepankan firman Allah: “Dan berpeganglah kamu semuanya kepada tali ALLAH (Dienul Islam), dan janganlah kamu bercerai-berai.” (Al Quran Surat Ali Imran 103) Dan firmanNya: “ Dan barangsiapa yang menentang Rasul sesudah jelas kebenaran baginya, dan mengikuti jalan yang bukan jalan orang-orang mukmin, Kami biarkan ia leluasa terhadap kesesatan yang telah dikuasainya itu dan Kami masukkan ia ke dalam Jahannam, dan Jahannam itu seburuk-buruk tempat kembali.” (Al Quran Surat An Nisa 115) “(Ketentuan) yang demikian itu adalah kerana sesungguhnya mereka menentang Allah dan Rasul-Nya; dan barangsiapa menentang Allah dan Rasul-Nya, maka sesungguhnya Allah amat keras siksaan-Nya.” (Al Quran Surat Al Anfaal 13) Mereka adalah paling menjauhkan dirinya dari sikap yang menentang perintah Nabi dan yang paling menjauhi diri dari fitnah (kesesatan). Mereka adalah mereka yang membuat konstitusi mereka: “Maka demi Tuhanmu, mereka (pada hakikatnya) tidak beriman hingga mereka menjadikan kamu (Muhammad Shallallahu ‘alaihi wasalam dan tuntunannya) sebagai hakim terhadap perkara yang mereka perselisihkan, kemudian mereka tidak merasa dalam hati mereka sesuatu keberatan terhadap keputusan yang kamu berikan, dan mereka menerima dengan sepenuhnya.” (Al Quran Surat An Nisa 65) Mereka (Ahlul Hadis) yang memberikan penghargaan yang layak atas Al Quran dan Sunnah dan memberinya penghormatan dan pengagungan yang layak, memprioritaskan di atas segala statement umat manusia, dan memberikan hak yang lebih tinggi dengan bimbingan (Al Quran dan Sunnah) dibandingkan dengan bimbingan dari seluruh manusia, dan mereka memutuskan dengan keduanya dalam seluruh masalah dengan sepenuh keikhlasan, dengan yang dada yang lapang dan bebas dari kekangan atau himpitan, dan mereka mengembalikan ketundukan kepada Allah dan Nabi Nya (dengan) suatu ketundukan paripurna dalam akidah, peribadatan dan amalan sesuai dengannya. Mereka selalu membenarkan seluruh titah ALLAH Ta’ala. Satu-satunya ucapan orang yang beriman ketika mereka diseru untuk mentaati perintah Allah dan Nabi Nya (Shallallahu ‘alaihi wasalam) dalam memutuskan perkara antara mereka, seperti yang mereka ucapkan, "Kami dengar dan kami taati. Dan bertakwalah kepada Allah, sesungguhnya Allah Mengetahui isi hati(mu). " (Al Quran Surat Al Maidah ayat 7) atau ucapan yang semisalnya. Merekalah (Ahlul Hadis) seluruh Sahabat-sahabat Rasulullah – yang di antaranya berkedudukan sebagai Khulafaur Rasyidin (Pemimpin yang diberi petunjuk) – lalu para pemuka Tabi'in yang utama, di antaranya : Ibn Sa'id Al-Musayyib ( wafat 90H), ' Urwah ibn Zubair ( wafat 94H), ' Ali ibn al-Hussain Zain Al-'Abidin ( wafat 93H), Muhammad Ibn Hanafiyah ( wafat 80H), ' Ubaidullah Ibn ' Abdillah Ibn ' Utbah ibn Mas'ud ( wafat 94H atau setelahnya), Salim Ibn ' Abdillah Ibn ' Umar ( wafat 106H), Qasim ibn Muhammad Ibn Abi Bakr As-Sadiq ( wafat 106H), al-Hasan al-Basri ( wafat 110H), Muhammad Ibn Sirin ( wafat 110H), ' Umar Ibn ' Abdul-'Aziz ( wafat 101H) dan Muhammad Ibn Syihaab Az-Zuhri ( wafat 125H). Kemudian para pengikut Tabi'in dan pemuka di antara mereka : Imam Malik (wafat 179H), al-Auza'i (wafat 157H), Sufyan ibn Sa'id ats-Tsauri (wafat 161H), Sufyan ibn Uyainah (wafat 198H), Isma'il ibn Ubia ??? (wafat 193H), Laits ibn Sa'd (wafat 175H) dan Abu Hanifah an-Nu'man (wafat 150H). Kemudian mereka yang mengikutinya dan yang berkedudukan utama : ' Abdullah ibn Al-Mubarak ( wafat 181H), Waqi' Ibn Al-Jarrah ( wafat 197H), Imam Muhammad Ibn Idrees asy-Syafi'i ( wafat 204H), ' Abdur-Rahmaan ibn Mahdi ( wafat 198H), Yahya ibn Al-Qatan Sa'id ( wafat 198H) dan Afan ibn Muslim ( wafat 219H). Setelah itu para murid-murid mereka yang mengikutinya dalam manhaj ini, dan berkedudukan utama di antaranya: Imam Ahmad ibn Hanbali ( wafat 241H), Yahya ibn Ma'in ( wafat 233H) dan ' Ali ibn Al-Madini ( wafat 234H). Lalu para siswa mereka seperti al-Bukhari ( wafat 256H), Imam Muslim ( wafat 261H), Abi Hatim ( wafat 277H), Abi Zara' ( Abu Zur'ah?) ( wafat 264H), Abu Dawud ( wafat 275H), at-Tirmidzi ( wafat 279H) dan an-Nasa'i ( wafat 303H). Kemudian mereka yang meneruskan jalan mereka seperti generasi yang mendahuluinya, yakni Ibn Jarir ( at-Tabari) ( wafat 310H), Ibn Khuzaimah ( wafat 311H), ad-Daaraqutni (wafat 385H) dalam waktunya, al-Khatib al-Baghdadi ( wafat 463H) dan Ibn ' Abdul-Barr An-Niwari ( wafat 463H). Lalu ' Abdul-Ghani Al-Maqdasi ( wafat 620H), Ibn Salah (wafat. 643H), Ibn Taimiyyah ( wafat 728H), al-Mizzi ( wafat 743H), adz-Dzahabi ( wafat 748H), Ibn Katsir ( wafat 774H) dan yang ada di zaman ini, mereka yang hidup di waktu masing-masing dengan mengikutinya dan menapaki langkah kaki mereka dalam berpegang pada Al Quran dan Sunnah yang hingga zaman sekarang. Inilah yang aku (Syaikh Rabi bin Hadi) maksud sebagai Ahlul Hadis.
Diterbitkan oleh : |