Tranung Kite dot net

SUMBANGAN MEMBANTU LAMAN INI
Bank Islam Cawangan Dungun No : 13044-01-0009696
Nama Pemegangan : Dewan Pemuda Pas Kawasan Dungun

SEDIKIT TEKNIK DEKLAMASI PUISI

SEDIKIT TEKNIK DEKLAMASI PUISI
(sayembara deklamasi puisi sabah)

SAYA memangnya bersetuju akan pandangan Zaini dan Rem bahawa menilai orang deklamasi puisi bukanlah mudah kala keputusannya itu sendiri bersifat subjek/maknanya orang lain bisa saja mempertikaikannya kala deklamasi sajak bukan semacam menilai lompat jauh atau lomba lari yang siapa lompatannya jauh atau yang dahulu sampai akan dikatakan sebagai juara.

Mungkin Prof Osman Putih suka kepada A, sementara Razali suka kepada B atau Jalidar suka kepada C atau saya sendiri lain yang disuka. Mungkin saja Jalidar suka kerana yang membaca ada sifat/gayanya hampir kepada unsur Islam, sementara saya lebih menekankan kreatifnya yang kekadang tidak sesuai dengan cara Islam. Mungkin begitu/Jadi, semuanya berbeda kemahuan, tetapi kalau begitulah keadaannya, maka yang terbaik tentu saja dikumpul markahnya dan yang terbanyak tentu saja merupakan juara akibat majoriti. Begitulah selalunya yang ditekankan, tetapi apa yang kami putuskan lewat deklamasi puisi baru-baru ini adalah keseluruhannya bersetuju dan tidak ada bantahan.

Seperti yang Zaini katakan bahawa sayembara deklamasi tahun ini cukup berat dan hebat kerana bayangkan saja yang ikut diperingkat negeri/semuanya yang hebat-hebat. Misalnya Ali Hassan Osman/asal dari Bongawan/2,3 tahun sebelum pernah muncul naib juara atau ketiga di peringkat kebangsaan dan kala itu dia mewakili bahagian wilayah persekutuan Labuan, sementara Dulamid pula pernah juara Negeri Sabah tahun lalu dan menyertai peringkat kebangsaan tahun sama dan Ruslan tentu saja orang yang sudah berkali-kali menjuarai deklamasi sajak peringkat Negeri Sabah dan sekaligus beberapa kali menyertai deklamasi peringkat kebangsaan. Nah, makanya sayembara deklamasi sajak tahun ini agak hebat dan sukar untuk diadili kerana semuanya mempunyai kemampuan yang hampir sama, makanya Jamil Buntak/saat akhir mengundur diri untuk menyertai sayembara dan kononnya rela mewakili Wilayah Labuan/itu yang berita belum pasti.

Saya barangkali sama saja dengan apa yang diperkatakan oleh Rem bahawa tahun lalu itu/sebenarnya Ruslan lebih baik dan sepatutnya jadi juara dan demikian juga pandangan para sobat lain/tapi itulah seperti yang saya katakan bahawa masing-masing hakim yang diamanahkan punya salera yang berbeda dengan bermacam alasan yang sifatnya subjektif/tetapi apapun saya kira kualiti yang diperlihatkan oleh Ruslan pada tahun ini agak lebih baik dari tahun-tahun sebelumnya.

Ruslan memilih sajak Rimba Perkasihan karya Shamsuddin Osman. Puisi itu agak santai, tetapi ada bahagian-bahagian tertentu harus dilonjatkan kekerasan sebutan demi sebutan perkataan seperti rangkap ke tiga misalnya kerana saya lihat di situlah puncak untuk memperlihatkan semangat yang berkobar-kobar, misalnya perhatikan kata-kata ini: ayuh, jangan sekali tewas menyerah, kita asah tombak akal dan pedang iman, kita titipkan kasturi 3 serangkai, biar bisanya tiada penawar, biar berpanjangan duka nestapa/biar jadi pengalaman kepada penderhaka.

Nah sesudah itu deklamator harus menurunkan emosinya/misalnya/kita lihat kata-kata ini: aku sudah cukup longlai akan taburan kata tak tertunai/juga nyali yang tidak berdarah/aku bukan insan yang kehilangan atma dan teja pendekar...Kelihatannya bermula rangkap 4 cara deklamasi sudah mula menurun seperti intro dan oleh sebab ada lagi satu rangkap/maka Ruslan harus bijak mengerakkan setiap ayat kerana kemuncaknya agak awal bermula/di sinilah sulitnya, tetapi Ruslan cukup berjaya membawa setiap irama lewat sajak itu.

Bercakap soal penampilan diri Ruslan di atas pentas memang cukup matang atas sebab beliau mempunyai banyak pengalaman di peringkat negeri dan kebangsaan dan hal inilah yang menyebabkan dia menundukkan semula dua deklamator yang pernah mengalahkan beliau leeat sayembara sama.

Misalnya tampilnya Ruslan di pentas cukup relax/tidak seperti pembaca-pembaca lain yang agak semacam “ketungkalan? Dan mimik muka mereka sudah cukup menjelaskan. Ruslan tampil dengan kebijaksanaan dengan cara mengatur gerak nafas/langakh yang cukup meyakinkan yang menyebabkan sukar kita memerhatikan kelemahan nafas yang melintas lewat pembesar suara seperti deklamator lain. Beliau agak tenang dan tahu benar bagaimana caranya menggunakan alat pembesar suara yang malam itu disentuh oleh Prof Osman Putih selaku ketua hakim.

Sebutan atau artikulasi Ruslan cukup padat dan jelas. Setiap kata yang dilontarkannya cukup berkesan dan ini juga berbeda dengan deklamator lain/misalnya ramai kalangan peserta yang selalu saja melakukan kesilapan dari segi sebutan/misalnya kata “saya? Menjadi “Sayah”, “Maka” menjadi “Makah”, “Kau” jadi “Kauh”. Rata-rata peserta tidak memerhatikan kesalahan-kesalahan yang dimaksudkan terutama sekali peserta dari Kota Marudu. Barangkali para peserta harus melatih diri/dengan cara menyebut suku kata berkali-kali seperti ma-ka/sa-ya/seng-sa-ra/de-ri-ta dan sebagainya/latihan semacam ini bisa diperolehi lewat kelas teater atau lakukannya secara sendiri.

Seperti yang saya perkatakan sebelum ini bahawa untuk memperbaiki sebutan/artikulasi ini/latihan yang yang selalu harus dilakukan dengan cara suaranya dirakam dan didengar semula/apakah nantinya suara yang dilontarkan itu benar-benar tepat atau bagaimana dan cara inilah peserta dapat mengatasi persoalan yang dibangkit.

Disamping itu intonasi juga begitu ketara tidak begitu mantap kerana setiap ayat yang dilontarkan membawa makna yang berbeda kalau tersalah lontar. Misalnya “Saya mahu ke Kota Kinabalu” kalau kita tekankan perkataan SAYA/maknanya bukan dia dan bukan kau, tetapi saya. Kalau kita tekankan Sembulan/maknanya bukan Kota Kinabalu atau Petagas, tetapi Kota Kinabalu dan demikian juga kalau kita tekankan perkataan MAHU atau sebaliknya. Jadi, setiap ayat yang dilontarkan harus ada hukumnya dan hukum inilah yang selalu dilanggar oleh deklamator yang menyebabkan cara deklamasi begitu hambar dan tawar.

Barangkali harus kita perhatikan kala kita sebut perkataan APA yang tentu saja merupakan pertanyaan, akan tetapi kalau misalnya tersalah ucap/ia membawa erti semacam amaran dan untuk menentukan maknanya/tentu saja tergantung kepada tekanan ucapan yang diperkatakan.

Selain daripada Intonbasi, getikulasi, cuba saja kita fikirkan kala seorang deklamator tampil di atas pentas, maka apa yang pertamanya kita lihat. Tentu saja cara dia masuk/cara dia berdiri menghadapi alat pembesar suara yang barangkali disebut disiplin/lalu setelah dia deklamasi/maka kita akan lihat seluruh gerak tubuhnya/kakinya/tangannya terutama sekali wajahnya alias mimik mukanya yang lebih dikenali sebagai EXSPRESI.

Misalnya kalau kita membaca sajak yang sedih, tetapi wajah kita tampak senyum/maka itu sudah tentu berlawanan/makanya sebelum deklamasi sesebuah buah/seorang deklamator harus membuat kajian terlebih dahulu tentang isi sajak yang dibaca termasuk latar penyairnya itu sendiri/tetapi ramai kalangan deklamator kita hanya terus membaca tanpa adanya ilmu ketahui latar penulis atau isi sajak yang menyebabkan penyampaian agak hambar dan lemah.

Kelihatannya ada seorang dua yang kala membaca aktingnya/mimiknya agak berlebih-lebihan dan menurut Rendra yang sedemikian samalah menghidangkan paha ayam kepada orang yang barusan makan paha ayam atau lebih tepat dikatakan HAM-AKTING yang akhirnya penonton jadi muak/mual kala melihatnya dan hal semacam ini begitu ketara saya lihat dimana-mana acara baca sajak.

Kembali kepada ESPRESI/mimik atau Aksi. Deklamasi puisi agak berbeda dengan lakunan yang mata penonton terlontar kepada keseluruhan pentas kerana aktornya sekian banyak/sedang deklamasi puisi sayembara hanya seorang saja dan di sinilah kita sepenuhnya menumpukan penglihatan kepada gerak tubuh, terutama sekali mimik muka/permainan gerak mata/pipi/gerak urat di leher, tangan dan sebagainya/cara membuka mulut/sentuhan gigi atas dan bawah/jejari/kaki/siku/bibir/rambut dan setiap apa saja anggota tubuh kita. Semuanya harus bergerak sama/saling bantu membantu dan kalau ini diperhatikan secara bijak, maka persembahan akan meninggalkan kesan yang mendalam dan inilah yang rata-rata tidak ada di kalangan para deklamator puisi kita, baik di Sabah atau di Semananung Malaysia.

Kelemahan yang disebut oleh prof Osman Putih tentu saja soal cara menggunakan alat pembesar suara yang kekadang merosakkan teknik baca puisi yang tidak diperhatikan oleh deklamator. Misalnya bercakap di depan alat pembesar suara bukan semudah yang kita fikirkan/setiap orang harus mengetahui dan menguasai gerak nafas/misalnya tersilap hembus nafas/itu akan merosakkan acara.

Saya perhatikan malam itu ramai yang gagal dalam bidang ini/mereka kala melontar mencuba menjauhkan mulut mereka, tetapi kala mengucapkan secara perlahan terus saja mendekati pembesar suara yang menyebabkan gerak nafas terlontar sama dan ini mencatatkan artikulasi yang tentu saja tidak mereka sedari dan hal ini harus diperhatikan dimusim-musim mendatang.

Disamping alat pemebesar suara/soal pakaian juga harus diperhatikan kerana ini akan membawa kesan yang tidak kurang pentingnya kerana perlu dijelaskan bahawa seorang pemidato yang hebat/selalu saja memerhatikan warna dan bentuk pakaiannya dan menurut Dale/pakar pidato bahawa warana pakaian yang baik untuk tampil di atas pentas ialah warna hitam dan Putih kerana ia meninggalkan kesan/makanya Rendra kala muncul di TIM suka sangat berpakaian hitam yang menyebabkan dia digelar Gagak Hitam/walau bagaimana/keadaan ini harus dilihat tentang latar belakang di mana kita berdiri. Misalnya kalau saja latarnya Hitam/maka tentu saja warna putih paling sesuai atau sebaliknya. Begitulah. Iya, demikian catatan untuk hari ini. Nanti ketemu lagi.

Ismaily Bungsu

sabah






______________________
Terbitan : 22 Ogos 2003

Ke atas Ke atas Home Home

Diterbitkan oleh :
Lajnah IT, DPP Kawasan Dungun, Terengganu
http://clik.to/tranung atau http://www.tranungkite.cjb.net
Email : webmaster@tranungkite.net
atau : tranung2000@yahoo.com