Tranung Kite dot net

SUMBANGAN MEMBANTU LAMAN INI
Bank Islam Cawangan Dungun No : 13044-01-0009696
Nama Pemegangan : Dewan Pemuda Pas Kawasan Dungun

Koreksi Politik dan Pemikiran kita

Para pemikir Barat mulai menyuarakan melalui mimbar-mimbar ilmiah mereka, bahawasanya peperangan budaya dan idealogi telah dimulai. Dan peperangan antara konsep Islami dan konsep pemikiran sekular telah dinyatakan terang-terangan. Oleh kerana itu dapat kita simpulkan bahawa kaum muslimin harus menyatukan barisan mereka dan memadukan visi dan misi mereka. Dan mereka harus mempelajari manhaj Islami yang benar.

Pergolakan pemikiran membangkitkan sentimen sebahagian kelompok yang menggiring mereka melakukan beberapa aksi kekerasan. Aksi tersebut bersandar kepada beberapa metodologi berfikir yang keliru, secara tidak langsung merupakan sebab timbulnya beberapa kekacauan dalam lembaran sejarah dunia Islam. Oleh kerana itu, maka sudah sewajarnya kita menelaah dengan seksama pola pemikiran politik yang Islami menurut Al-Quran dan As-Sunnah, dan mengambil metodologi Ahlus Sunnah wal Jamaah sebagai solusi dalam menghadapi segala tantangan zaman dan dalam membabat habis pemikiran- pemikiran yang menyesatkan.

Sebagai kesinambungannya umat Islam harus bersatu di atas pedoman Ahlus Sunnah wal Jamaah. Pedoman itulah yang dapat membantu umat ini dalam mengarahkan kebangkitan umat Islam dan memperbaiki perjalanan menuju ke arah sana.

Kebangkitan Islam telah muncul di atas dua manhaj :

a. Pertama : Manhaj yang memulai dengan menancapkan akidah yang benar dan berusaha mengamalkannya, kemudian berangkat dan situ berusaha menelurkan idea-idea politik yang sejalan dengan sunnah Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam.

b. Kedua : Manhaj yang memulai dengan memunculkan idea-idea politik dan undang-undang sementara masalah akidah dikebelakangkan. Akhirnya mereka jatuh dalam tindakan-tindakan yang salah.

Di bawah ini, adalah nasihat-nasihat para ulama tentang masalah Politik dan Pemikiran, yang mana para ulama mengetengahkan asas-asas yang menjadi dasar dari kaedah bagi seluruh kafilah-kafilah dakwah Islam. Di samping mengetengahkan hubungan antara penguasa dan rakyat, amar makruf nahi mungkar dan masalah perseteruan antara yang haq dan batil.

Dan sesungguhnya para ulama tertuntut untuk menjelaskan manhaj Ahlus Sunnah wal Jamaah dalam bidang politik dan pola pemikiran sebagaimana halnya mereka menjelaskan bidang akidah.

Dialog Bersama Syaikh Shalih bin Fauzan Al-Fauzan.

Pertanyaan : Fadhilatus Syaikh, dien adalah nasihat. Dan nasihat merupakan salah satu dasar Dienul Islam. Namun kendati begitu kami masih menemukan kendala khususnya yang berkaitan dengan hakikat nasihat kepada penguasa dan batasan-batasannya. Bagaimanakah caranya memberi nasihat kepada penguasa dan fasa-fasanya. Permasalah yang sangat serius adalah tentang merubah kemungkaran dengan tangan (tindakan). Sudikah anda mejelaskan persoalan ini ?

Jawapan : Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam telah menerangkan hal ini, beliau Bersabda : "Ertinya : Dien adalah nasihat,. "Kami bertanya : "Bagi siapa ?" Beliau bersabda: "Bagi Allah, KitabNya, RasulNya, penguasa kaum dan segenap kaum muslimin"

Nasihat bagi penguasa kaum muslimin adalah dengan mentaati mereka dalam perkara makruf, mendoakan mereka dan menunjuki mereka jalan yang benar serta menjelaskan kekeliruan yang mereka lakukan supaya dapat dihindari. Dan hendaknya nasihat itu diberikan secara rahsia, empat mata antara si pemberi nasihat dan penguasa tersebut. Nasihat kepada penguasa itu juga dapat diberikan dalam bentuk melakukan instruksi-instruksi yang diserahkan melalui aparat yang diangkat penguasa dan orang-orang yang diberi kekuasaan olehnya. Iaitu melakukannya dengan amanah dan ikhlas. Ini juga termasuk bentuk nasihat kepada penguasa kaum muslimin.

Demikian pula Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam telah bersabda (yang ertinya) : “Barangsiapa melihat sebuah kemungkaran hendaklah ia ubah dengan tangannya, jika tidak mampu maka ubahlah dengan lisannya, jika tidak mampu maka bencilah kemungkaran itu dalam hatinya".

Maksudnya, kaum muslimin terbahagi menjadi tiga kelompok :

1. Yang memiliki ilmu dan kekuasaan, maka mereka berhak merubah kemungkaran dengan tangan (tindakan), seperti pemerintah dan aparat-aparat yang ditunjuk oleh pemerintah untuk melaksanakan amar makruf nahi mungkar. Merekalah yang berkuasa merubah kemungkaran dengan tangan melalui proses hukum syar'i.

2. Yang memiliki ilmu tapi tidak memiliki kekuasaan. Kelompok ini hendaknya merubah kemungkaran dengan lisan iaitu dengan menjelaskan kepada umat manusia hukum halal dan haram, makruf dan mungkar. Ia berhak menganjurkan kepada yang makruf, melarang, memberi bimbingan dan menasihati, semua itu termasuk mengingkari kemungkaran dengan lisan.

3. Seorang muslim yang tidak memiliki ilmu dan tidak pula memiliki kekuasaan. Kelompok ketiga ini cukuplah membenci kemungkaran dan pelakunya dalam hatinya. Menjauhkan dirinya dari kemungkaran dan pelakunya. Itulah tingkatan amar makruf nahi mungkar.

Pertanyaan : Apakah method dakwah dibatasi dengan kaedah-kaedah tertentu ?

Jawapan. Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman. "Ertinya : Serulah (manusia) kepada jalan Rabbmu dengan hikmah dan pelajaran yang baik dan bantahlah mereka dengan cara yang lebih baik. Sesungguhnya Rabbmu Dia-lah yang lebih mengetahui tentang siapa yang tersesat dari jalanNya dan Dia-lah yang lebih mengetahui orang-orang yang mendapat petunjuk" [An-Nahl : 125]

Orang yang terjerumus dalam kemungkaran boleh jadi kerana kejahilannya. Maka untuk orang jenis ini cukup didakwahi dengan cara yang bijaksana. Misalnya dengan menjelaskan kekeliruannya, apabila telah jelas kekeliruan tersebut baginya ia segera kembali kepada kebenaran. Di antara manusia ada juga yang walaupun kekeliruannya telah jelas namun ia masih keras kepala tidak mahu kembali kepada kebenaran. Barangkali ia memiliki sifat malas, hawa nafsunya merintangi dirinya untuk menerima kebenaran. Maka untuk orang jenis ini diperlukan pelajaran yang baik iaitu dengan memperingatkan kepadanya kerasnya siksa Allah dan hukuman yang bakal diterima oleh orang yang terus menerus berbuat maksiat setelah mengetahuinya. Ada pula jenis ketiga, iaitu orang yang membantah apabila mengetahui kebenaran demi mempertahankan kebatilan dan kemungkaran. Ia hanya ingin mencari pembenaran bagi kesalahan yang dilakukannya. Orang jenis ini perlu dibantah. Namun hendaknya perbantahan itu dilakukan dengan cara yang terbaik bukan dengan sikap sombong, tidak pula dengan pelecehan dan penghinaan, namun dengan cara yang terbaik, iaitu membantah kebatilan dengan argumen-argumen yang jelas sehingga kebenaran menjadi nyata dan kebatilan menjadi sirna. Inilah tingkatan-tingkatan yang dijelaskan Allah dalam ayat tersebut. Tingkatan pertama dengan hikmah, tingkatan kedua dengan pelajaran yang baik dan tingkatan ketiga dengan perbantahan yang baik. Skala tingkatan-tingkatan itu berbeza-beza sesuai dengan kondisi mad'u (ummat).

Pertanyaan. Bagaimana pedoman Salafus Shalih dalam masalah amar makruf nahi mungkar?

Jawapan. Tadi telah kita jelaskan bahawa jika amar makruf nahi mungkar itu ditegakkan di negara Islam seperti negara kita ini, maka cukup dengan nasihat dan peringatan yang baik, sebab pemerintah negara tersebut telah mengatur seluruh proseduralnya. Jika si pelaku maksiat harus di cekal, maka keputusannya diserahkan kepada pemerintah yang berwenang. Jika tidak perlu dilaporkan kepada pemerintah maka yang dituntut adalah menutupi kesalahan pelaku maksiat apabila tampak pada dirinya tekad untuk meninggalkan maksiat dan menerima dakwah serta meninggalkan kesalahan yang dilakukannya.

Kesalahan mereka ini tidak perlu diexposekan. Cukuplah mereka merubah diri sendiri semampu mereka dari jahat menjadi baik. Jika kelihatannya si pelaku maksiat ini tidak mengindahkan dan tidak menerima nasihat maka sebaiknya mengangkat urusan mereka kepada pihak berkuasa. Jika telah diangkat kepada pihak yang berkuasa maka selesailah kewajipan si pemberi nasihat, sebab ia telah mengembalikan urusan kepada pihak yang berwenang. Namun apabila hal itu terjadi di negara non muslim, maka cukuplah bagi mereka dakwah kepada jalan Allah dengan cara yang hikmah dan pelajaran yang baik serta mencegah terjadinya fitnah yang lebih besar yang dapat merugikan dan membahayakan kaum muslimin. Jangan sampai muncul sikap angkuh dan anarki yang menimbulkan mudharat lebih besar. Cukuplah dengan menyebarkan Dienul Islam secara hikmah dan penuh dengan pelajaran yang baik serta memberi nasihat bagi yang menerima serta menyerahkan urusan kepada Allah bagi orang yang tidak menerimanya.

Di alam yang penuh fitnah sekarang ini, masing-masing manusia mencuba mengatasinya dengan cara mereka sendiri terutama ketika menghadapi para penguasa yang zalim atau dianggap zalim oleh mereka. Sebahagian berdemonstrasi dan berkoalisi dengan kelompok lain untuk menggulingkan penguasanya. Lainnya menggunakan ilmu politiknya. Masing-masing menganggap cara demikianlah yang paling tepat dan cepat untuk mengatasi penguasa zalim. Padahal cara-cara demikian tidaklah pernah diajarkan oleh Salafus Shalih, sedangkan mereka (Salafus Shalih) adalah sebaik-baik panutan dalam menjalani hidup ini (secara individu, bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara).

Mendoakan kebaikan untuk penguasa adalah salah satu cara yang ditempuh Salafus Shalih untuk mengatasi kezaliman mereka kerana dengan berdoa kepada Allah --agar menyelamatkan rakyat dari kezaliman penguasanya-- memberikan kebaikan dan menyedarkan mereka untuk berbuat adil dan bijaksana. Hal ini juga merupakan pengamalan dari perintah Allah Ta’ala di dalam firman-Nya : “ ... kemudian bila kamu ditimpa kemudlaratan maka hanya kepada-Nya-lah kamu meminta pertolongan.” (QS. An Nahl : 53)

Dan sabda Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wa Sallam :

“Sesungguhnya akan terjadi setelahku ‘atsarah’ dan perkara-perkara yang kalian ingkari.” Mereka (para shahabat) bertanya : “Wahai Rasulullah, lalu apa yang Anda perintahkan kepada kami?” Beliau menjawab : “Tunaikanlah hak mereka yang diwajibkan atas kalian dan mintalah hak kalian kepada Allah.” (Muttafaqun ‘Alaihi)

Al Imam An Nawawi rahimahullah berkata tentang hadis ini : “Di dalam (hadis) ini terdapat anjuran untuk mendengar dan taat kepada penguasa walaupun ia seorang yang zalim dan bersikap sewenang-wenang. Berikanlah haknya (sebagai pemimpin) iaitu berupa ketaatan, tidak memberontak, dan tidak mengkudetanya, bahkan seharusnya dengan sungguh-sungguh memohon kepada Allah Ta’ala untuk menyingkirkan gangguannya, menolak kejahatannya, dan memperbaikinya.” (Syarah Shahih Muslim 12/183)

Mendoakan kebaikan untuk para penguasa adalah suatu perkara yang sangat dijunjung tinggi oleh Ahlus Sunnah wal Jamaah, hingga Al Imam Al Barbahari rahimahullah menyatakan : “Jika engkau melihat seseorang mendoakan kejelekan bagi pemerintah maka ketahuilah bahawa ia adalah pengikut hawa nafsu (ahli bid’ah). Dan jika engkau mendengar seseorang mendoakan kebaikan bagi pemerintah maka ketahuilah bahawa ia adalah Ahlus Sunnah, Insya Allah.” (Syarhus Sunnah halaman 116-117)

Fudlail bin ‘Iyyadl seorang Imam Ahlus Sunnah yang menetap di Makkah dan wafat pada tahun 187 H menyatakan : “Kalaulah aku memiliki suatu doa yang pasti dikabulkan nescaya tidaklah aku peruntukkan kecuali untuk penguasa.”

Oleh kerana itu kami diperintah mendoakan kebaikan dan tidak diperintah untuk mendoakan kejelekan bagi mereka walaupun mereka berbuat jahat dan zalim kerana kejahatan dan kezaliman mereka (balasan akibatnya) untuk mereka sendiri sedangkan kebaikan mereka (balasannya) untuk diri mereka dan kaum Muslimin.”

Begitu tegas ucapan Fudlail bin ‘Iyyadl ini sehingga menjadi rujukan Ahlus Sunnah dalam menyikapi penguasa, pemerintah, dan pemimpin mereka yang berbuat kezaliman dan ketidakadilan. Adapun tentang lafaz doanya kita dapat melafazkannya sesuai dengan kehendak kita, yang penting mengandungi makna yang baik dan permohonan kepada Allah agar memperbaiki dan meluruskan penguasa dari penyimpangan-penyimpangan yang selama ini mereka lakukan. Khusyu’-lah dalam berdoa dan pilihlah waktu-waktu yang maqbul untuk berdoa dan dengan cara yang sesuai tuntunan Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wa Sallam.

Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman : “Berdoalah kalian kepadaku nescaya Aku akan mengabulkan doa kalian.” (QS. Ghafir : 60) “Sesungguhnya mereka adalah orang-orang yang selalu bersegera dalam (mengerjakan) perbuatan-perbuatan baik dan mereka berdoa kepada Kami dengan penuh harap dan cemas. Dan mereka adalah orang-orang yang khusyuk kepada kami.” (QS. Al Anbiya’ : 90)

Dan janganlah mendoakan kejelekan untuk penguasa kerana yang demikian bukanlah akhlak Ahlus Sunnah. Ulama Ahlus Sunnah tidak senang jika mendengar seseorang yang mendoakan kejelekan untuk penguasanya. Sebagaimana yang dikhabarkan bahawa Al Hasan Al Bashri mendengar seseorang mendoakan kejelekan untuk Al Hajjaj yang kekuasaannya terkenal dengan kezaliman, penindasan, pertumpahan darah, pelanggaran terhadap apa yang diharamkan Allah, bahkan sampai ia membunuh Abdullah bin Zubair, lalu beliau (Al Hasan Al Bashri) menyatakan : “Janganlah engkau melakukannya!”

Dengan sikap Al Hasan Al Bashri ini bertambah jelas bagi kita bahawa hak penguasa adalah dimintakan kepada Allah agar memperbaiki mereka dan bukan mendoakan kejelekan untuk mereka. Dan hendaklah kita juga memperbaiki diri, menjauhi larangan Allah, dan mengamalkan perintah-Nya kerana kezaliman para penguasa juga disebabkan dosa-dosa rakyatnya.

Di era globalisasi ini toleransi cenderung ekstrim. Manusia tidak begitu memperhatikan masalah yang bersifat prinsip (menurut agama). Akhirnya dengan alasan toleransi mereka meruntuhkan al wala’ wal bara’. Padahal masalah cinta dan benci ini merupakan prinsip dasar agama Islam.

Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi Wa Sallam telah menjelaskan prinsip ini dalam ucapan Beliau : “Barangsiapa yang cinta kerana Allah, benci kerana Allah, memberi kerana Allah dan tidak memberi kerana Allah, maka ia telah menyempurnakan keimanannya.” (HR. Abu Dawud dan dishahihkan oleh Syaikh Al Albani dalam Silsilah no. 380)

Juga Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi Wa Sallam bersabda bahawa siapa yang telah mencintai Allah dan RasulNya dan tidak cinta kepada siapapun kecuali kerana Allah dan benci untuk kembali kepada kekufuran seperti bencinya dia untuk dilempar ke dalam api neraka, maka dia akan merasakan kelazatan iman, sebagaimana hadis berikut :

”Tiga perkara, jika ada tiga perkara tersebut pada seseorang maka ia akan mendapatkan kelazatan iman, iaitu : Menjadikan Allah dan RasulNya yang paling dicintai daripada selain keduanya, dan mencintai seseorang dan tidak mencintainya kecuali kerana Allah, dan benci untuk kembali kepada kekufuran seperti bencinya dia untuk dilemparkan ke dalam api neraka.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Dengan toleransi ekstrim tersebut, mereka bersaudara dengan Yahudi dan Nasrani. Bahkan boleh bersaudara dengan kaum musyrikin sekalipun.

Dengarlah apa yang dikatakan pendiri Ikhwanul Muslimin, Hasan Al Banna, tentang orang-orang kafir. Dia berkata : [ “Ikhwanul Muslimin tidaklah ditegakkan untuk menghadapi akidah-akidah lain, agama-agama lain atau kelompok-kelompok lain. kerana perasaan yang mendominasi jiwa para tokoh-tokohnya adalah : kaedah dasar dalam semua risalah (agama) sama-sama terancam -pada hari ini- oleh faham atheisme. Maka bagi para pemeluk yang beriman kepada agamanya, hendaklah saling bahu-membahu dan saling mengerahkan segenap usahanya untuk menyelamatkan umat manusia dari bahaya ini. Ikhwanunl Muslimin tidak membenci orang-orang asing (kafir) yang tinggal di negeri-negeri Islam bahkan Yahudi yang tinggal menetap di negeri ini. Tidak ada antara kita dan mereka kecuali hubungan yang baik.” (Qalifatul Ikhwan oleh As Sisi 1/211) ] (TahafutusySyi’arat, Abdul Aziz bin Sabib, hal. 19 – 20 )

Dalam kesempatan lain, ketika berbicara tentang Palestin, Hasan Al Banna berkata :

[ “Saya menetapkan bahawa pertikaian kami dengan Yahudi bukanlah pertikaian agama, kerana Al Quranul Karim menganjurkan kita untuk bersatu dan berteman dengan mereka. Islam adalah agama ‘kemanusiaan’ sebelum dikatakan ‘kebangsaan’. Al Quran telah memuji mereka dan menjadikan antara kita dan mereka kesepakatan : “Janganlah kalian membantah ahli kitab kecuali dengan jalan yang lebih baik.” (Al Ankabut : 46). Dan ketika Al Quran akan menghukumi Yahudi dalam satu masalah, ia menghukuminya dari sisi ekonomi. Allah berfirman : “kerana suatu kezaliman dari orang-orang Yahudi, Kami haramkan kebaikan-kebaikan yang tadinya dihalalkan untuk mereka.” (Ikhwanul Muslimin Ahdats Shana’atit Tarikh 1/409 ]. ( Mauridul Adzbuz Zallal, Ahmad An Najmi, hal. 142 )

Demikianlah, tidak hairan kalau tokoh-tokoh Ikhwan yang lainpun mengucapkan kalimat yang senada, bahkan lebih berani. Ucapan Dr. Hasan At Turabi, tokoh Ikhwan, adalah contoh yang paling jelas dalam masalah ini. Ia mulai mengkampanyekan pemikiran ‘reaktualisasi’-nya dengan mengusulkan adanya ‘agama dunia’ yang menyeluruh, mencakup tiga agama samawi : Islam, Kristian, Yahudi. Bahkan ia telah mengadakan berbagai muktamar dalam usaha kampanyenya. Di antaranya muktamar di Sudan pada bulan Oktober 1994 di mana ia mengusulkan untuk membuat Hizb Ibrahimi (parti Ibrahim), dengan alasan tiga agama tersebut sama-sama termasuk milah Ibrahim (agama Nabi Ibrahim).

Oleh kerana itu, Dr. At Turabi terus mengadakan usaha pendekatan tiga agama tersebut, diantaranya ia berkata : [ “Sesungguhnya persatuan nasional adalah salah satu dari program-program penting kita. Sesungguhnya kita dalam garis Islam dapat mencapai persatuan nasional tersebut melalui dasar-dasar ‘agama Ibrahim’, yang dapat mengumpulkan kita dengan masihiyyun (orang-orang Kristian) dengan warisan sejarah yang satu. Dengan pantauan sejarah keyakinan dan akhlak, kita tidak menginginkan agama ashabiyah / fanatik dan permusuhan. Tetapi kita menginginkan agama persatuan, persaudaraan dalam ketuhanan Allah yang satu. “ ( Majalah Al Mujtama’ no. 736 tgl. 8 – 10 – 1985 ] ( Munaqasyah Hadi’ah, Muhammad Ahmad hal. 146 )

Sesungguhnya dakwah seperti ini pernah juga diucapkan oleh Muhammad Abduh di Mesir, sebagaimana dikatakan oleh Al Ustaz Muhammad Husein : [ “... bahawasanyya jalan Muhammad Abduh untuk menegakkan peranannya dalam memberi semangat dalam pemakmuran adalah ‘membuka pintu ijtihad’ dakwah ini memberikan dukungan yang besar tehadap perkembangan Islam dan pendekatan kemajuan dan modernitas Barat. Pendekatan yang dimaksud adalah : Pendekatan antara Islam dan pemikiran Barat serta kemajuan mereka. Usaha ini telah mencapai puncaknya ketika Muhammad Abduh masuk dalam (muwafadhat) bersama pendeta dari Inggris –Ishak Tablur – dalam mengupayakan pendekatan Islam dan Kristian.” (Tarikh Al Ustadz Al Imam, 2/5698) ] (Ibid)

Jadi Dr. Hasan At Turabi tidak membawa sesuatu yang baru. Dia hanya taqlid kepada kaum modernis yang mencita-citakan reaktualisasi hukum-hukum Islam. Al Ahya’ Minhum Wal Anwat.

Di antara pendahulu kaum modernis adalah Dr. Muhammad Ammarah seperti yang diceritakan oleh Al Ustaz Jamal Sulthan : [ “... kemudian Dr. Muhammad mengemukakan pandangannya yang baru. Pandangan yang sungguh mengerikan. Idea yang dia umumkan di bawah bendera ‘persatuan agama Tuhan’. Inilah awal penolakan terhadap pembahagian manusia menjadi kafir dan Mukmin di atas dasar yang sesat tadi. kerana pembahagian tersebut – katanya – hanya terkait dengan zaman-zaman pertengahan, iaitu zaman-zaman kegelapan.” (Muhammad Amarah dan Misi Kebangkitan Islam, hal. 80 ] (Ibid)

Lihatlah ucapan ini, betapa miripnya istilah-istilah mereka dengan istilah ‘tiga agama satu Tuhan’, dan Abdurrahman Wahid yang mengajak untuk tidak mengkafirkan orang kristian.

Ucapan mereka ini sudah sangat jauh dari prinsip-prinsip Islam dan kaedah-kaedah Al Wala’ wal Bara’. Seakan-akan mereka lupa kalau Yahudi dan Nasrani telah mengucapkan kalimat yang sangat besar, kekafiran yang sangat dahsyat. Hampir-hampir langit terpecah dan gunung-gunung runtuh serta bumi terbelah kerana ucapan mereka.

“Besar sekali ucapan yang keluar dari mulut-mulut mereka. Mereka tidak mengucapkan kecuali kedustaan.” (Al Kahfi : 5)

“Hampir-hampir langit terpecah, bumi terbelah dan gunung-gunung runtuh ketika mereka menganggap bahawa Allah telah memiliki anak.” (Maryam : 90-91)

Lupakah mereka kalau Yahudi menganggap Uzair anak Allah?

Lupakah mereka kalau Nasrani mengatakan Isa anak Allah?

Lupakah mereka kalau Yahudi dan Nasrani telah menghina Allah Yang Maha Tinggi, Maha Besar?

Apakah pantas orang-orang seperti mereka dianggap sebagai saudara? Diajak bersatu, bekerja sama, apalagi mengganggap sebagai satu agama, iaitu agama Ibrahimiyyah?

Dengarlah nasihat dan fatwa dari Syaikh Muhammad bin Shalih Al Utsaimin dalam Majmu’ Fatawa-nya : [ “Tidak halal bagi seorang Muslim untuk mensifati orang-orang kafir –macam apapun kekafirannya, apakah dia Nasrani, Yahudi, Majusi atau pun Atheis– tidak boleh mensifati mereka dengan istilah ‘saudara’ sama sekali. Maka hati-hatilah wahai saudaraku dengan istilah ini. kerana sama sekali tiada persaudaraan antara orang-orang Mukmin dengan orang-orang kafir. Disebut persaudaraan ialah persaudaraan iman sebagaimana Allah katakan : “Sesungguhnya orang-orang yang beriman itu bersaudara.” (Al Hujurat : 10)

Kalau persaudaraan nasab (keluarga) dapat lenyap kerana perbezaan agama, maka bagaimana mungkin persaudaraan akan terwujud tanpa keIslaman dan kekeluargaan sekaligus. Allah Azza Wa Jalla berfirman tentang Nabi Nuh ‘Alaihis Sallam : “Wahai Rabb, sesungguhnya anakku termasuk keluargaku. Dan sesungguhnya janjimu adalah benar dan Engkau Maha Bijaksana. Allah berfirman : ‘Wahai Nuh, sesungguhnya ia bukan keluargamu. Sesungguhnya amalan dia adalah tidak baik.” (Hud : 45-46)

Maka selamanya tidak akan ada persaudaraan antara mukmin dan kafir. Bahkan, kewajipan bagi seorang Mukmin adalah tidak mengambil mereka sebagai wali, sebagaiman firman Allah : “Wahai orang-orang yang beriman, janganlah kalian mengambil musuhku dan musuh kalian sebagai wali-wali yang kalian berikan pada mereka rasa kasih sayang. Padahal mereka telah kafir dengan kebenaran yang telah datang kepada kalian.” (QS. Mumtahanah : 1)

Siapakah musuh-musuh Allah? Musuh Allah adalah orang-orang kafir. Allah Ta’ala berfirman :

“Wahai orang-orang yang beriman, janganlah kalian mengambil Yahudi dan Nasrani sebagai wali-wali, sebahagian kalian menjadi wali sebahagian yang lain. Barangsiapa menjadikan mereka sebagai wali, maka sesungguhnya ia termasuk golongan mereka. Sesungguhnya Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang zalim.” (Al Maidah : 51)

Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman : “Barangsiapa menjadi musuh bagi Allah dan malaikat-malaikatnya, Jibril dan Mikail, maka Allah adalah musuh bagi orang-orang kafir.” (Al Baqarah : 98) ] (Majmu’ Fatawa Syaikh Ibnu Utsaimin 3/43)

Demikianlah pernyataan beliau yang melarang mensifati mereka dengan ‘saudara’. Maka bagaimana pandangan Anda terhadap orang yang mengatakan tidak kafir, atau ‘mereka itu orang beriman’ atau istilah yang popular di negara kita, ‘semua agama baik’? Apalagi yang membebaskan manusia untuk memilih agamanya, sedangkan yang mengatakan harus Islam dikatakan ashabiyyah!

Tentang ucapan yang terakhir ini, Syaikh Utsaimin berfatwa : [ “Sesungguhnya orang yang membebaskan manusia unntuk meyakini agama yang dikehendakinya, maka ia telah kafir. kerana barangsiapa mengatakan bahawa manusia boleh memilih agama selain agama Muhammmad Shalallahu ‘Alaihi Wa Sallam, maka ia telah kafir kepada Allah Azza Wa Jalla. kerana Allah telah berfirman :

“Barangsiapa mencari agama selain Islam, maka tidak akan diterima dan ia di akhirat menjadi orang-orang yang rugi.” (Ali Imran : 85)

“Sesungguhnya agama yang benar di sisi Allah adalah Islam.” (Ali Imran : 19)

Maka dengan ini, tidak boleh seseorang meyakini bahawa agama selain Islam boleh, yakni boleh bagi manusia untuk beribadah dengan cara agama tersebut. Bahkan jika seseorang memang meyakini demikian, para ulama telah menegaskan bahawa yang demikian adalah kekufuran yang mengeluarkan dari agama.” ] (Fatawa Syaikh Ibnu Utsaimin 3/99)

Maka nasihat yang perlu kita perhatikan adalah ucapan beliau di halaman 83 juz 3 dalam buku yang sama : [ “Dengan ini aku mengulangi yang ketiga kalinya agar orang yang mengucapkan seperti ini bertaubat kepada Allah dan agar menerangkan kepada manusia seluruhnya bahawa Yahudi dan Nasrani semuanya kafir, kerana hujjah telah ditegakkan atas mereka dan risalah telah sampai kepada mereka, tetapi mereka menentang terang-terangan.

Dulu orang Yahudi telah disifati dengan al maghdubi (yang dimurkai) kerana mereka mengetahui yang haq tetapi menyelisihinya. Dan orang-orang Nasrani telah disifati dengan adh dhalin (yang sesat) kerana mereka menginginkan al haq tetapi tersesat. Sedangkan sekarang semuanya telah mengetahui kebenaran dan mengenalinya, tetapi menyelisihi kebenaran tersebut. Maka mereka semuanya berhak untuk disebut sebagai al maghdubi ‘alaihim. Saya mengajak Yahudi dan Nasrani untuk beriman kepada Allah dan rasulNya seluruhnya serta mengikuti Nabi Muhammad Shalallahu ‘Alaihi Wa Sallam kerana memang inilah yang diperintahkan kepada mereka dalam kitab-kitabnya.” ] Demikian ucapan Syaikh Al Utsaimin.

Kita lihat betapa beraninya mereka mengadakan pendekatan dengan agama-agama lain dan meruntuhkan prinsip al wala’ wal bara’. Maka, tentunya mereka lebih berani lagi mengadakan pendekatan dengan aliran-aliran sesat yang masih mengaku Islam. Dengan dalih ‘mereka Muslimin’ mereka menganggap semua aliran baik dan sama-sama mencari keredhaan Allah. Maka runtuhlah al wala’ wal bara’ dan prinsip amar makruf nahi munkar.

Sebagai contoh, kita lihat apa yang dikatakan barisan mudzab-dzab tentang Syiah Rafidhah yang secara jelas mereka telah sesat dan keluar dari garis Islam:

Ismail As Syathi berkata : “Syiah adalah umat Muhammad shalallahu ‘alaihi wa sallam, sedangkan Syiah Iran adalah memegang bendera Majusi. Maka tidaklah termasuk al haq kita mendukung umat Majusi dan meninggalkan umat Muhammad.” (Majalah Al Mujtama’ no. 455) Jasim Al Muhallil. Dia adalah seorang tokoh gerakan islam ketika berbicara tentang rencana politiknya dalam pemilu dan parlimen : [ “Akan terjadi nanti penyesuaian yang kuat dengan segala macam kelompok-kelompok Islam yang ada di medan dakwah. Dan akan terjadi pula beberapa tanazulat (pengorbanan prinsip) demi tercapainya ‘persatuan’. “ (Jaridatul Anba no. 6693, tgl. 24-12-1994) ] (Tahafutus Syi’arat, Abdul Aziz bin Syahib, hal. 35)

Bahkan dia mengatakan lebih tegas lagi siapa yang dimaksud dengan golongan-golongan Islam : [ Mengapa tidak diadakan pertemuan-pertemuan antara gerakan-gerakan Islam dan gerakan-gerakan kemanusiaan? Demikian pula antara kelompok-kelompok Sunni (Ahlus Sunnah) dengan kelompok-kelompok Syiah? Pertemuan ini dimaksudkan untuk bekerjasama dan saling membantu dalam bidang kemanusiaan yang kita sepakat dengan mereka. Agar dengan ta’awun ini amal lebih meluas, kerana gerakan Islam ini bekerja untuk ‘kebaikan’ dan kerana ‘kebaikan’ ” ]. Sampai kepada ucapan dia selanjutnya, [ “...kalau di antara kita dan mereka ada beberapa perbezaan seperti masalah Imam Mahdi, wali, pampasan perang yang 1/5 dan lain-lain dari macam-macam perkara yang sulit untuk disepakati oleh kedua belah pihak, maka sesungguhnya di antara kita ada persamaan dan kesepakatan dalam beberapa sisi yang lain. Seperti fahisyah (dosa-dosa khususnya zina) diharamkan oleh semua pihak, riba, dan kejahatan dalam masalah harta, yakni memakan harta manusia dengan kebatilan dan seterusnya, telah disepakati oleh kedua belah pihak keharamannya. Maka apa yang menghalangi gerakan-gerakan Islam Sunni untuk mengadakan kerjasama dengan Syiah dalam masalah-masalah ini.” (Jaridatu Anba’ no. 6707 tgl. 9-1-1995 ]. (Tahafutus Syi’arat, Abdul Aziz bin Syahib, hal. 35-36)

Ini hanyalah satu contoh ucapan mereka yang menunjukkan prinsip mereka dalam ber– ‘toleransi’. Toleransi ekstrim yang mengutamakan ‘persatuan, ukhuwah, ikhwaniyah’ lebih daripada akidah dasar Islam dan prinsip al wala’ wal bara’ . Adapun bukti pebuatan mereka lebih banyak lagi seperti pertemuan-pertemuan, acara-acara bersama, perayaan-perayaan bersama, atau ceramah-ceramah yang diisi oleh kedua belah pihak.

- Apakah mereka tidak menyedari bahawa perbezaan antara kaum Muslimin dengan Syiah sangatlah prinsip?

- Apakah perbezaan kita dengan mereka hanya yang disebut oleh Muhallil di atas?

- Tidakkah kita ingat bahawa mereka merubah-rubah Al Quran, menambahnya dengan surat wilayah dan mengurangi surat Al Lahab?

- Bukankah mereka menganggap imam-imamnya mengetahui yang ghaib?

- Bukankah mereka telah mengkafirkan sahabat-sahabat Rasul shalallahu ‘alaihi wa sallam kecuali beberapa orang sahaja dari mereka?

- Bagaimana dengan laknat mereka terhadap Abu Bakar, Umar, Utsman, Muawiyah dan lain-lain?

- Bagaiman dengan tuduhan mereka terhadap Aisyah dengan tuduhan pezina, pelacur, dan lain-lain?

- Apakah fahisyah diharamkan oleh Syiah? Bukankah mereka membolehkan mut’ah (kahwin kontrak), bukankah mereka membolehkan homo dan lesbian?

Lihatlah akibat yang fatal dari ucapan bid’ah yang kelihatannya sederhana : “Kita saling tolong menolong dalam apa yang kita sepakati dan saling memaklumi pada apa yang kita berbeza padanya.”

Akhirnya lahirlah dari prinsip tersebut ucapan-ucapan berikut :

“Kita memaklumi perbezaan kita dengan Syiah agar kita bersatu melawan orang-orang kafir.” Seperti ucapan Ikhwanul Muslimin. “Kita memaklumi Yahudi dan Nasrani yang sama-sama menyembah Allah untuk melawan orang-orang musyrik.” Seperti ucapan Turabiyyun. “Kita memaklumi perbezaan kita dengan semua agama kerana mereka sama-sama menyembah Tuhan untuk bersatu menghadapi bahaya atheisme.” Seperti ucapan Hasan Al Banna. Berikutnya, tentu sahaja memaklumi para atheis juga dalam rangka berta’awun dengan mereka dalam bidang yang disepakati iaitu : “kemanusiaan”.

Apa sisanya?

Kepada apa kalian mengajak?

Tidak mengajak kepada agama tertentu, mazhab tertentu, ataupun prinsip tertentu.

Seharusnya kita berprinsip : “ta’awun ‘alal birri wat taqwa.”

Jika ada perbezaan kita berprinsip : “Kembalikanlah perselisihan kepada Allah dan RasulNya.”

Dan jangan kita katakan kita berdiri di atas semua golongan, melainkan : “Berdiri di atas golongan yang telah dipastikan selamat oleh Allah dan RasulNya shalallahu ‘alaihi wa sallam dan pasti mendapat keredhaan Allah.”

“Dan orang-orang yang terdahulu dalam beriman dari kalangan Muhajirin dan Anshar serta orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik, Allah redha kepada mereka.” (QS. At Taubah : 100)

Sedang dalam hadis :

“Sebaik-baik manusia adalah generasiku, kemudian yang mengikuti mereka dan kemudian yang mengikuti mereka.” (HR. Bukhari)

Dengan ini kami menasihatkan kepada kaum Muslimin dan seluruhnya untuk meninggalkan prinsip-prinsip bid’ah dan kembali pada prinsip-prinsip yang pasti kebenarannya dari Allah dan RasulNya, buang slogan-slogan dan jargon-jargon bid’ah dan ucapkanlah syiar-syiar Islam :

“Tolong menolonglah dalam kebaikan dan ketakwaan.”

“Kembalikanlah perselisihan kepada Allah dan RasulNya.”

“Apa yang berbeza kita harus saling mengingatkan dengan kebenaran dari Al Quran dan As Sunnah.”

“Perintahkanlah kebenaran dan laranglah kemungkaran.”

“Kami berdiri di atas golongan yang selamat iaitu para shahabat.”

Dengan prinsip-prinsip ini kita ajak yang kafir kepada Islam dan kita ajak yang sesat dan yang menyimpang kepada jalan sunnah.






___________________________
Terbitan : 21 Oktober 2003

Ke atas Ke atas Home Home

Diterbitkan oleh :
Lajnah IT, DPP Kawasan Dungun, Terengganu
http://clik.to/tranung atau http://www.tranungkite.cjb.net
Email : webmaster@tranungkite.net
atau : tranung2000@yahoo.com

Pandangan dalam laman ini tidak semestinya menunjukkan sikap DPPKD
(Dewan Pemuda Pas Kawasan Dungun, Terengganu)