SUMBANGAN MEMBANTU LAMAN INI
Bank Islam Cawangan Dungun No : 13044-01-0009696 Nama Pemegangan : Dewan Pemuda Pas Kawasan Dungun Kedudukan Akal Di dalam Islam & Tokoh RasionalisA. Beberapa atsar/kata-kata para Shahabat r.a. tentang pengutamaan nash (dalil) di atas rasional. 1. Dari Ali bin Abi Thalib r.a., dia berkata :“Andaikata agama itu cukup dengan ra’yu (akal), maka bahagian bawah khuf (alas kaki) lebih utama untuk diusap daripada bahagian atasnya. Aku benar-benar melihat Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam mengusap bahagian atas khuf-nya.” (HR. Abu Daud dengan sanad yang baik. Dalam Al-Talkhishul Habir, 1/160 Al-Hafidh Ibnu Hajar Al-Atsqalani berkata hadits ini shahih, dan juga telah disepakati Syaikh Muhammad Nashiruddin Al-Albani di dalam Shahihul Abu Daud, 1/33) 2. Dari Umar bi Al-Khaththab r.a., dia berkata tatkala mencium Hajar Aswad: ”Sesungguhnya aku tahu engkau hanya sekadar batu yang tidak dapat memberi mudharat dan manfaat. Kalau tidak kerana kulihat Rasulullah menciummu, tentu aku tidak akan menciummu.”(HR. Bukhari dan Muslim) 3. Dari Ibnu Umar r.a., dia berkata : “Aku pernah mendengar Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda, “Janganlah kalian mencegah isteri-isterimu (untuk mendatangi) masjid-masjid jika mereka meminta izin kepada kalian.” Salim bin Abdullah berkata, “Lalu Bilal bin Abdullah berkata, ‘Demi Allah, kami akan mencegah mereka’.” Salim berkata, “Lalu Ibnu Umar menghampiri Abdullah dan mengolok-oloknya dengan olok-olokan yang amat buruk, yang tidak pernah kudengar sebelumnya seperti itu. Dia berkata, “Aku mengkhabarkan kepadamu dari Rasulullah, lalu engkau berkata,’Demi Allah, aku benar-benar akan mencegahnya?’.”(HR. Muslim) 4. Dari Imran bin Hushain r.a., dia berkata : “Sesungguhnya Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda, “Malu itu adalah kebaikan seluruhnya.” Lalu Busyair bin Ka’ab berkata, “Sesungguhnya di dalam sabda beliau ini terdapat kelemahan.” Lalu Imran berkata, “Aku memberitahukan dari Rasulullah, lalu engkau datang untuk menentang? Aku tidak akan memberitahukan satu hadis pun yang kuketahui.”(HR. Bukhari dan Muslim) 5. Dari Urwah bin Az-Zubair, bahwa dia berkata kepada Ibnu Abbas r.a.: “Engkau telah menyesatkan manusia.”“Apa itu wahai Urayyah?”, tanya Ibnu Abbas.Urwah menjawab, “Engkau memerintahkan umrah pada sepuluh hari itu, padahal hari-hari itu tidak ada umrah.”Ibnu Abbas bertanya, “Apakah engkau tidak bertanya mengenai masalah ini kepada ibumu?”Urwah menjawab, “Sesungguhnya Abu Bakar dan Umar tidak pernah melakukan hal itu.”Ibnu Abbas berkata, “Inilah yang membuat kalian rosak. Demi Allah, aku tidak melihat melainkan hal ini akan membuat kalian tersiksa. Sesungguhnya aku beritahukan kepada kalian dari Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam, namun kalian menjawab dengan diri Abu Bakar dan Umar.”(HR Imam Ahmad dan Al-Khathib serta lainnya dengan sanad yang shahih) Ibnul Qayyim berkata, “Semoga Allah merahmati Ibnu Abbas. Bagaimana andaikata dia tahu sekian banyak orang yang menentang firman Allah dan sabda Rasul-Nya dengan menggunakan perkataan Aristoteles, Plato, Ibnu Sina, Al-Faraby, Jahm bin Shafwan, Bisyr Al-Maraisy, Abul Huzail Al-Allaf, dan orang-orang yang sealiran dengan mereka ?” Dapat kami katakan (Syaikh Ali Hasan), “Semoga Allah merahmati Ibnul Qayyim. Bagaimana jika dia tahu ada orang-orang rasionalis abad ke dua puluh, yang menentang Sunnah hanya dengan menggunakan rasionalnya yang serba terbatas, dengan gambaran-gambaran yang rosak dan dengan pendapat yang hina ?” B. Golongan Rasionalis Masa Kini 1. Salah seorang di antara mereka berkata, “Para pemeluk Islam telah sepakat --kecuali sebahagian kecil di antara mereka yang tidak perlu digubris— bahawa jika akli dan naqli saling bertentangan, maka apa yang ditunjukkan oleh akli harus diambil.” (Yang dimaksudkan adalah Muhammad Abduh dalam tulisannya, Al-Islam Wan-Nashraniyyah, hal. 59. Padahal dalam buku Risalatut-Tauhid dia berkata bahawa rasional sahaja tidak boleh sampai kepada kebahagiaan ummat, jika tidak disertai petunjuk ilahi) 2. Seorang jurnalis yang juga menganggap dirinya sebagai pemikir ulung yang bernama Fahmy Huwaidy berkata di dalam sebuah artikelnya yang berjudul Watsaniyyun Hum Abadatun-Nushush, “Orang-orang paganis adalah para penyembah nash, menghuraikan usaha peniadaan rasional di hadapan nash, bahawa hal ini merupakan gambaran paganisme modern. Sebab yang disebut paganis itu tidak hanya orang-orang yang menyembah berhala. Tetapi paganisme pada zaman sekarang berubah menjadi penyembah terhadap simbol-simbol yang tertuang dalam tulisan dan upacara keagamaan.” 3. Seorang tokoh sekolah Al-Azhar Mesir, Muhammad Al-Ghazaly berkata di dalam bukunya yang sangat zalim terhadap ilmu dan ilmuwan, As-Sunnah baina Fiqhi wa Ahlil-Hadits, “Kita harus tahu bahawa kebatilan yang ditetapkan rasional mustahil merupakan agama. Agama yang benar adalah yang berunsur kemanusiaan yang benar. Unsur kemanusiaan yang benar adalah rasional yang boleh menetapkan hakikat, yang jelas kerana ilmu, yang memburukkan khurafat dan yang dijauhkan dari dugaan. Kami sentiasa menegaskan bahawa setiap hukum yang ditentang rasional, setiap jalan yang tidak dikehendaki kemanusiaan yang benar dan sejalan dengan fitrah yang lurus, mustahil merupakan agama.” Maka dari itu kita melihat Muhammad Al-Ghazali secara berani menolak sekian banyak hadis Nabawi yang shahih dan kuat, hanya kerana hadis-hadis tersebut dianggap menunggangi rasionalnya. (Silakan baca kitab Kasyfu Mauqifi Al-Ghazaly Minas-Sunnah wa Ahliha wa naqdu Ba’dhi Ara’ihi, karya DR. Rabi’ bin Hadi Al-Madkhaly yang sudah diterjemahkan dengan judul Membela Sunnah Nabawy, jawapan terhadap buku Studi Kritis atas Hadis Nabi, karya Muhammad Al-Ghazaly, anda akan mendapatkan di dalamnya bagaimana ia menolak hadis-hadis shahih yang tidak dapat diterima oleh akalnya walau tercantum dalam kitab Shahih Bukhari dan Muslim. Serta setiap syubhat yang dilontarkannya dijawab secara ilmiyah oleh Syaikh DR. Rabi bin Hadi Al-Madkhaly –hafidhahullah) 4. Muhammad Ahmad Khalafullah berkata di dalam bukunya, Ghazwun Minad-Dakhil, hal. 51, “Islam telah membebaskan rasional manusia untuk menguasai nubuwah, dengan mengumumkan penghabisan masa nubuwah secara total dan sekaligus kebebasan manusia dari nubuwah." 5. Husain Ahmad Amin yang merupakan penerus langkah bapaknya, berkata, “Menyerap ruh Islam, dan bukan komitmen terhadap hukum-hukum tertentu, cukup dijadikan tameng yang boleh membawa kita ke jalan yang lurus. Masyarakat yang ada sekarang mendapatkan hukuman pidana/hudud pencurian tidak seperti hukuman di masyarakat badwi. Begitu pula masalah hijab yang pernah di wajibkan di Madinah. Hukuman potong tangan yang ditetapkan Al-Quran sebagai hukuman bagi pencuri adalah syariat masyarakat badwi. Hijab lebih tepat untuk masyarakat Madinah Al-Munawwarah, dan tidak tepat untuk masyarakat Cairo pada abad ke dua puluh.” 6. Di antara pendukung fahaman rasionalis ini adalah seorang Doktor dalam bidang Hukum, Hasan At-Turaby, yang saat ini namanya cukup berkibar kerana hubungan dekatnya dengan pemerintah Sudan. Dia berkata dalam bukunya Tajdidul-Fikri-Islamy, hal. 26, “Sumber yang perlu kami tegaskan sekali lagi sebagai dasar adalah rasional.” Perhatikan pula masalah besar yang dimuntahkan At-Turaby, dalam suatu ceramah yang disampaikannya dengan judul Tahkimusy-Syari’ah, yang secara lancang dia membolehkan kemurtadan dari Islam, “Saya ingin mengatakan, bahawa dalam suatu pemerintahan dan pada satu zaman, orang Muslim boleh mengganti agamanya, sebagaimana yang dilakukan orang Nasrani.” Yang menguatkan kedok dirinya dan menambah kejelasan jati dirinya ini adalah penjelasan Muhammad Surur Zainul Arifin, dalam bukunya, Dirasat Fis-Sirah An-Nabawiyah, hal. 308, mengisahkan pengalaman peribadi yang dialaminya bersama At-Turaby. Dia berkata, “Dosen dalam bidang hukum di Universiti Sudan, DR. Hasan Abdullah At-Turaby ini mengingkari turunnya Isa Al-Masih pada akhir zaman. Dalam suatu pertemuan pada sebelas tahun yang lalu, saya bertanya kepadanya, “Mengapa engkau mengingkari hadis yang mutawatir ?”Dia menjawab, “Saya tidak mengingkari hadis dari segi sanadnya. Tetapi saya melihat hadis tersebut bertentangan dengan rasional. Padahal rasional harus didahulukan daripada nash jika terjadi pertentangan.” 7. Yusuf Al-Qardhawi Beliau berbeza dengan Muhammad Al-Ghazaly yang frontal (beliau menolak hadis dengan susunan bahasa yang lebih halus dan tidak keras), sekalipun hadis-hadis yang dibicarakan Al-Qardhawy adalah hadis yang sama dengan yang ditolak Muhammad Al-Ghazaly berdasarkan rasionalnya yang sempit. Hadis yang secara terang-terangan ditolak Muhammad Al-Ghazaly, biasanya Al-Qardhawy cukup berkata, “Saya masih bimbang tentang hadis yang dimaksud.” Baru kemudian ia menyebutkannya. Fahaman rasionalisme ini tampak dalam buku karangannya yang terakhir, Kaifa Nata’amalu Ma’as Sunnah An-Nabawiyyah. Di antaranya adalah kebimbangannya tentang keabsahan hadis yang diriwayatkan di dalam shahih Muslim, dari Anas, sesungguhnya Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda kepada seorang laki-laki, “Sesungguhnya bapakku dan bapakmu berada di dalam neraka.” Kadang-kadang Al-Qardhawy beralih kepada takwil yang bertentangan dengan zahir nash, seperti sikapnya dalam menghadapi hadis, “Kematian di datangkan dalam bentuk domba berwarna hitam bercampur putih.”(Muttafaq Alaihi) Maka tidak hairan jika engkau melihat kebebasan pemikiran mereka, yang menganggap Islam itu bukan satu-satunya agama Allah. Bererti mencari agama selain Islam bukan merupakan kesesatan dan kekufuran. Bahkan mencari agama Nasrani dan Yahudi boleh membawa pelakunya ke syurga dan bahkan boleh ke Firdaus, syurga yang paling tinggi, seperti pendapat Muhammad Ammarah, Fahmy Huwaidy, Abdul Aziz Kamil, Sa’id Al-Asymawy, Mahmud Abu Rayyah dan lain-lainnya. ( Al-Aqlaniyyah, Hidayah Am Ghiwayah, hal. 46) Tabaruk atau mencari barakah serta waktu dan tempat yang berkaitan dengannya termasuk perkara akidah yang sangat penting. Hal ini dikeranakan sering terjadi perbuatan ghuluw (berlebih-lebihan) di dalamnya. Perbuatan itu dapat menjerumuskan banyak orang ke dalam perbuatan bid’ah, khurafat, dan syirik, dahulu mahupun sekarang. Bukankah orang-orang jahiliyyah terdahulu beribadah kepada berhala-berhala disebabkan mereka mengharap barakah dari berhala-berhala tersebut? Kemudian bid’ah tersebut masuk menyelinap ke dalam agama ini melalui orang-orang zindiq (munafiq). Di antara cara yang mereka gunakan untuk merosakkan agama dari dalam adalah menanamkan sikap ghuluw terhadap para wali dan orang-orang shalih serta bertabaruk dengan kuburan mereka. Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah mengatakan : “Dari sinilah orang-orang munafik memasukkan ke dalam Islam perkara bid’ah tersebut. Sungguh yang pertama kali mengada-adakan agama rafidlah adalah seorang zindiq Yahudi yang pura-pura menampakkan keislaman dan menyembunyikan kekafirannya untuk merosakkan agama kaum Muslimin, sebagaimana Paulus merosakkan agama kaum Nashara ... . Akhirnya muncullah bid’ah syiah yang merupakan kunci terbukanya pintu kesyirikan. Ketika para zindiq itu merasa kuat, mereka memerintahkan membangunkan/mendirikan tempat-tempat ibadah di atas kuburan dan menghancurkan masjid-masjid dengan alasan tidak boleh shalat Jumaat dan jamaah kecuali di belakang imam yang ma’shum ... .” (Majmu’ Fatawa 27/16) Sangat disayangkan betapa banyak kaum Muslimin terjatuh ke dalam perbuatan syirik melalui pintu tabaruk ini sehingga kita perlu mengetahui apa pengertian tabaruk serta mana yang disyariatkan dan mana yang dilarang. Makna Dan Hakikat Tabaruk Al Laits menafsirkan kata tabarakallah adalah pemuliaan dan pengagungan. Az Zajaj mengatakan tentang firman Allah: “Inilah kitab yang Kami turunkan yang diberkahi.” Kata Al Mubarak (yang diberkahi) maknanya adalah apa-apa yang mendatangkan kebaikan yang banyak. Ar Raghib berkata : “Barakah bererti tetapnya kebaikan Allah terhadap sesuatu.” Ibnul Qayim berkata : “Barakah bererti kenikmatan dan tambahan. Sedangkan hakikat barakah adalah kebaikan yang banyak dan terus menerus yang tidak berhak memiliki sifat tersebut kecuali Allah tabaraka wa ta’ala.” Muhammad bin Shalih Al Utsaimin berkata : “Barakah bererti kebaikan yang banyak dan tetap. Diambil dari kata al birkah yang bererti tempat terkumpulnya air (kolam). Dan tabaruk bererti mencari barakah.” Untuk lebih jelas maka perlu diketahui beberapa perkara sebagai berikut : 1. Bahawasanya barakah itu semuanya datang dari Allah, baik dalam hal rezeki, pertolongan, kesembuhan, dan lain-lain. Maka tidak boleh meminta barakah kecuali kepada Allah kerana Dia-lah Pemberi Barakah. Di antara dalil tentang hal itu adalah apa yang diriwayatkan oleh Al Bukhari dalam Shahih-nya dari Ibnu Mas’ud radliyallahu 'anhu, ia berkata : Kami bersama Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam dalam suatu perjalanan. Ketika itu persediaan air sedikit. Maka beliau bersabda : “Carilah sisa air!” Para shahabat pun membawa bejana yang berisi sedikit air. Lalu Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam memasukkan tangan beliau ke dalam bejana tersebut seraya bersabda : “Kemarilah kalian menuju air yang diberkahi dan berkah itu dari Allah.” Sungguh aku (Ibnu Mas’ud) melihat air terpancar di antara jari-jemari Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam. (HR. Bukhari dengan Fathul Bari 6/433) Kalau sudah jelas bahawa barakah itu dari Allah, maka memintanya kepada selain Allah adalah perbuatan syirik seperti meminta rezeki, mendatangkan manfaat serta menolak mudharat kepada selain Allah. Tidak diragukan lagi bahawa barakah itu termasuk kebaikan, sedang kebaikan itu semuanya dari Allah seperti sabda Rasululah shallallahu 'alaihi wa sallam: “Dan kebaikan itu semuanya di tangan-Mu.” (HR. Muslim dengan syarah An Nawawi 6/57) 2. Sesuatu yang digunakan untuk bertabaruk seperti benda-benda, ucapan, ataupun perbuatan yang telah jelas ketetapannya dalam syariat, kedudukannya hanya sebagai sebab bukan yang mendatangkan barakah. Sebagaimana halnya dengan obat-obatan hanya sebagai sebab bagi kesembuhan, bukan yang menyembuhkan. Yang menyembuhkan adalah Allah. Oleh kerana itu kita hanya mengharapkan kesembuhan kepada Allah. Dan terkadang ubat tersebut tidak bermanfaat dengan izin Allah. Maka yang disebutkan dalam syariat bahawa padanya terdapat barakah hanya digunakan sebagai sebab yang kadang-kadang tidak ada pengaruhnya kerana tidak terpenuhi syaratnya atau kerana ada penghalang. Penyandaran barakah kepadanya termasuk penyandaran sesuatu kepada sebabnya. Sebagaimana ucapan Aisyah radliyallahu 'anha tentang Juwairiah bintul Harits radliyallahu 'anha: “Aku tidak mengetahui seorang perempuan yang lebih banyak barakahnya daripada dia di kalangan kaumnya.” (HR. Ahmad, Musnad 6/277) Ertinya dialah sebagai sebab datangnya barakah dan bukan dia pemberi barakah. 3. Mencari barakah harus melalui sebab-sebab yang diperintahkan oleh syariat. Yang menentukan ada atau tidaknya barakah pada sesuatu hanyalah dalil syar’i. Kerana perkara agama itu dibangunkan di atas dalil, berbeza dengan perkara dunia yang dapat diketahui dengan akal melalui pengalaman dan bukti. 4. Bertabaruk dapat dilakukan dengan perkara yang dapat dicapai dengan pancaindera seperti ilmu, doa, dan lain-lain. Seseorang mendapatkan kebaikan yang banyak dengan barakah ilmunya yang dia amalkan dan dia ajarkan. Dari penjelasan di atas dapat disimpulkan bahawa bertabaruk adalah mencari barakah dalam hal tambahan kebaikan dan pahala serta semua yang diperlukan seorang hamba dalam urusan agama dan dunianya melalui sebab-sebab dan cara yang telah ditetapkan dalam syariat. Tabaruk Yang Disyariatkan A. Bertabaruk Dengan Ucapan Dan Perbuatan Banyak ucapan, perbuatan, serta keadaan yang diberkahi jika seorang hamba yang Muslim melakukannya untuk mencari kebaikan dan barakah melalui sebab tersebut dengan mengikuti sunnah Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam. Dia akan mendapatkan kebaikan dan barakah itu sesuai dengan niat dan kesungguhannya, jika tidak ada penghalang syar’i yang menghalanginya. Di antara ucapan-ucapan yang mengandung barakah adalah zikir kepada Allah dan membaca Al Quran. Tidak tersamar lagi bagi seorang Muslim bahawa dengan zikir dan membaca Al Quran, seorang hamba dapat memperolehi kebaikan serta barakah yang banyak. Hal ini dijelaskan dalam hadis yang diriwayatkan oleh Bukhari dalam Shahih-nya dari Abu Hurairah radliyallahu 'anhu bahawa Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda yang bermaksud: Sesungguhnya Allah memiliki para Malaikat yang biasa berkeliling di jalan mencari orang-orang yang berzikir. Jika mereka mendapatkan suatu kaum yang berzikir kepada Allah, mereka pun saling memanggil: “Kemarilah pada apa yang kalian cari (hajat kalian).” Maka para Malaikatpun menaungi mereka dengan sayap mereka sampai ke langit dunia. Lalu Allah ‘azza wa jalla bertanya kepada para Malaikat itu sedangkan Allah Maha Tahu : “Apa yang diucapkan para hamba-Ku?” Para Malaikat menjawab : “Mereka bertasbih, bertakbir, bertahmid, dan memuji Engkau.” Allah bertanya : “Apakah mereka melihat Aku?” Para Malaikat tersebut menjawab : “Tidak, demi Allah, mereka tidak melihat Engkau.” Allah bertanya lagi: “Bagaimana sekiranya jika mereka melihat Aku?” Para Malaikat menjawab : “Sekiranya mereka melihat Engkau, nescaya mereka tambah bersemangat beribadah kepada-Mu dan lebih banyak memuji serta bertasbih kepada-Mu.” Allah bertanya : “Apa yang mereka minta?” Para Malaikat menjawab : “Mereka meminta Syurga kepada-Mu.” Allah bertanya : “Apakah mereka pernah melihat Syurga?” Para Malaikat menjawab : “Sekiranya mereka pernah melihatnya, nescaya mereka lebih sangat ingin untuk mendapatkannya dan lebih bersungguh-sungguh memintanya serta sangat besar keinginan padanya.” Allah bertanya : “Dari apa mereka minta perlindungan?” Para Malaikat menjawab : “Dari neraka.” Allah bertanya : “Apakah mereka pernah melihatnya?” Para Malaikat menjawab : “Tidak, demi Allah, mereka belum pernah melihatnya.” Allah bertanya : “Bagaimana kalau mereka melihatnya?” Para Malaikat menjawab : “Seandainya mereka melihatnya, nescaya mereka tambah menjauh dan takut darinya.” Allah berfirman : “Aku persaksikan kepada kalian bahawa Aku telah mengampuni mereka.” Seorang di antara Malaikat berkata : “Di antara mereka ada si Fulan yang tidak termasuk dari mereka (orang-orang yang berzikir), dia hanya datang kerana ada keperluan.” Allah berfirman : “Tidak akan celaka orang yang duduk bermajlis dengan mereka (majlis zikir).” (HR. Bukhari) Dari hadis ini diketahui betapa agung barakah zikir tersebut, ia mengandungi pengampunan dosa-dosa dan jaminan masuk Syurga. Bukan hanya bagi orang-orang yang berzikir sahaja, tetapi juga mencakupi orang yang duduk bersama mereka. Sedangkan membaca Al Quran termasuk jenis zikir yang paling agung. Di dalamnya terdapat barakah dunia dan akhirat yang tidak ada yang mampu menghitungnya kecuali Allah ‘azza wa jalla. Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda yang bermaksud: “Bacalah Al Quran kerena sesungguhnya dia akan datang di akhirat nanti memberi syafaat kepada orang-orang yang membacanya.” (HR. Muslim) Di samping ucapan-ucapan ada pula perbuatan yang mengandungi barakah jika seorang Muslim ber-iltizam dengannya dalam rangka ber-ittiba’ (mengikuti) Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam, dia akan mendapat barakah yang agung dengan izin Allah. Termasuk di antaranya Thalabul ‘Ilmi (menuntut ilmu) serta mengajarkannya dan juga shalat berjamaah. Demikian pula maju ke medan tempur untuk meraih keutamaan mati syahid di jalan Allah. Hal ini merupakan amal yang mengandungi barakah yang tidak ada yang lebih agung daripadanya kecuali barakah iman dan barakah kenabian dan kerasulan. Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda yang bermaksud: “Orang yang mati syahid memiliki enam keutamaan di sisi Allah iaitu : Dia diampuni pada awal penyerangannya, diperlihatkan tempat duduknya di Syurga, dilindungi dari azab kubur, merasa aman dari ketakutan yang dahsyat, diletakkan di atas kepalanya mahkota kehormatan yang permatanya lebih baik daripada dunia beserta isinya, dinikahkan dengan tujuh puluh dua bidadari dan (diberi izin) memberi syafaat kepada tujuh puluh orang dari keluarganya.” (HR. Tirmidzi dari Miqdam bin Ma’dikarib, dishahihkan oleh Al Albani dalam Shahih At Tirmidzi 2/132) Di samping ucapan dan perbuatan, keadaan-keadaan yang diberkahi antara lain : Makan bersama dan dimulai dari pinggir, serta menjilat jari (setelah makan), dan makan secukupnya. Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda :“Berkumpullah kalian menikmati makanan dan sebutlah nama Allah, kalian akan diberkahi padanya.” (HR. Abu Dawud, Ahmad, dan Ibnu Majah, dihasankan oleh Al Albani dalam Shahih Abi Dawud) Juga beliau bersabda :“Barakah itu akan turun di tengah-tengah makanan, maka makanlah dari pinggir dan jangan dari tengah.” (HR. Ahmad, Abu Dawud, Ibnu Majah, dan dishahihkan oleh Al Albani dalam Shahih Abu Dawud) Beliau juga memerintahkan untuk menjilat jari kerana seseorang tidak tahu mana di antara makanan itu yang mengandung barakah. Beliau juga bersabda :“Takarlah makanan itu, kalian akan diberkahi padanya.” (HR. Bukhari) Semua ucapan atau perbuatan yang diperintahkan oleh Allah dan Rasul-Nya, kemudian dilakukan seorang hamba dengan ikhlas dan mutaba’ah (mengikuti Sunnah) nescaya akan menjadi penyebab turunnya barakah. B. Bertabaruk Dengan Tempat Allah menjadikan barakah pada beberapa tempat di muka bumi. Barangsiapa mencari barakah pada tempat tersebut, nescaya dia akan mendapatkannya dengan izin Allah, jika dia beramal dengan ikhlas dan mutaba’ah. Tempat-tempat tersebut antara lain: 1. Masjid-masjid Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda : “Tempat yang paling dicintai Allah di suatu negeri adalah masjid-masjidnya dan tempat yang paling dibenci Allah dalam suatu negeri adalah pasar-pasarnya.” (HR. Muslim) Bertabaruk dengan masjid bukan dengan mengusap tanah atau temboknya. Kerana tabaruk adalah perkara ibadah maka harus sesuai dengan Sunnah Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam. Mencari barakah melalui masjid-masjid adalah dengan i’tikaf di dalamnya, menunggu shalat lima waktu, shalat berjamaah, menghadiri majlis-majlis zikir di sana, dan perkara-perkara yang disyariatkan lainnya. Adapun perkara ibadah yang tidak disyariatkan tidak akan mendatangkan barakah, bahkan termasuk perbuatan bid’ah. Di antara masjid yang memiliki keistimewaan tambahan dalam hal barakah adalah : Masjidil Haram, Masjid Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam, Masjidil Aqsa, dan Masjid Quba’. Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda : “Shalat di masjidku ini lebih baik seribu kali daripada shalat di masjid yang lain kecuali Masjidil Haram.” (HR. Bukhari dan Muslim) Dalam riwayat lain ada tambahan: “Dan shalat di Masjidil Haram lebih afdhal seratus kali daripada shalat di masjidku ini.” (HR. Bukhari dan Muslim) Sabda beliau pula : “Tidak boleh dilakukan perjalanan (jauh) kecuali kepada tiga masjid, iaitu masjidku ini, masjidil haram, dan masjidil aqsa.” (HR. Bukhari dan Muslim) Beliau bersabda tentang masjid Quba’: “Barangsiapa bersuci di rumahnya lalu datang ke masjid Quba’ dan shalat padanya dengan satu shalat maka baginya seperti pahala umrah.” (HR. Ahmad, Hakim, An Nasa’i, Ibnu Majah, dan dishahihkan oleh Al Albani dalam Shahih Ibnu Majah) 2. Kota Makkah, Madinah, dan Syam Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda tentang Makkah : “Demi Allah, engkau (Makkah) adalah bumi Allah yang paling baik dan paling dicintai-Nya. Sekiranya aku tidak diusir darimu, tidaklah aku akan keluar.” (HR. Ahmad, Hakim, Ibnu Majah, dan dishahihkan oleh Al Albani dalam Shahih Ibnu Majah) Demikian pula Madinah dan Syam, Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam menyatakan : “Barangsiapa menginginkan kejelekan terhadap penduduknya (Madinah), Allah akan menghancurkannya sebagaimana melelehnya garam dalam air.” (HR. Muslim) “Berbahagialah penduduk Syam.” Kami bertanya : “Kenapa?” Beliau menjawab : “Sesungguhnya para Malaikat Allah Yang Maha Rahman membentangkan sayap mereka di atasnya.” (HR. Ahmad, Hakim, dan dishahihkan oleh Al Albani dalam Shahih Al Jami’ Ash Shaghir) Sehingga orang yang bermukim di Makkah, Madinah, atau Syam dengan mengharap barakah Allah ‘azza wa jalla pada tempat tersebut, baik dalam hal tambahan rezeki atau dihindarkan dari fitnah, bererti dia telah diberi taufiq untuk mendapatkan kebaikan yang banyak. Adapun kalau seorang hamba bertabaruk dengan mengusap tanah, batu-batuan, tembok dan pepohonannya, atau dengan mengambil tanahnya untuk dicampur dengan air dan dijadikan ubat atau yang semisal itu, maka dia justeru mendapatkan dosa kerana mengamalkan bid’ah. Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam tidak pernah bertabaruk dengan cara seperti itu. 3. Arafah, Muzdalifah, dan Mina Ketiga tempat tersebut juga termasuk diberkahi kerana banyak kebaikan yang turun kepada manusia di tempat-tempat tersebut berupa pengampunan dosa dan pembebasan dari neraka serta pahala yang besar sebagai barakah ber-ittiba’ kepada Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam. Demikian pula wuquf (menetap) di tempat tersebut pada waktu yang disyariatkan. C. Bertabaruk Dengan Waktu Allah subhanallahu wa ta'ala mengkhususkan beberapa waktu dalam hal keutamaan dan barakah. Barangsiapa memilih waktu-waktu tersebut untuk melakukan kebaikan padanya serta bertabaruk dengan menjalankan amal-amal yang disyariatkan pada waktu tersebut, nescaya dia akan memperolehi barakah yang agung. Seperti bulan Ramadhan, Lailatul Qadar, sepertiga malam terakhir, hari Jumaat, Isnin, Khamis, bulan-bulan Haram, dan 10 haribulan Zulhijjah. Sebagaimana sabda Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam yang bermaksud: “Sungguh telah datang kepada kalian bulan Ramadhan, bulan yang diberkahi. Allah mewajibkan atas kalian berpuasa padanya. Pintu-pintu Syurga dibuka dan pintu-pintu neraka Jahim ditutup serta syaitan dibelenggu pada bulan tersebut. Di dalamnya terdapat satu malam yang lebih baik daripada seribu bulan. Siapa yang terhalang (mendapatkan kebaikannya) maka sungguh ia terhalang (dari kebaikan yang banyak).” (HR. Ahmad dan dijayidkan oleh Al Albani kerana syawahidnya dalam Misykah Al Mashabih) Adapun barakah yang Allah jadikan pada bulan Ramadhan antara lain berupa pengampunan dosa, tambahan rezeki bagi seorang Mukmin, pendidikan (jiwa), serta pahala yang besar di sisi Allah. Adapun Lailatul Qadar, keadaannya sangat agung sebagaimana firman Allah yang bermaksud: “Malam kemuliaan itu lebih baik daripada seribu bulan.” (Al Qadr : 3) Kerana agungnya barakah pada malam tersebut sehingga Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam menyatakan : “Berjaga-jagalah (untuk mendapatkan) Lailatul Qadr pada bilangan ganjil dari sepuluh hari terakhir bulan Ramadlan.” (HR. Bukhari) Termasuk waktu yang diberkahi pula adalah 10 haribulan Zulhijjah sebagaimana sabda Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam yang bermaksud: “Tidak ada amal pada hari-hari (lain) yang lebih afdhal daripada 10 har bulan Zulhijjah ini.” Mereka para shahabat pun bertanya : “Tidak pula jihad?” Beliau bersabda: “Tidak pula jihad, kecuali seseorang yang keluar menyabung nyawa dan hartanya dan tidak kembali sedikitpun.” (HR. Bukhari) Keutamaan hari ‘Arafah (tanggal 9 Zulhijjah) bagi orang yang berhaji telah dimaklumi. Allah membanggakan orang-orang yang wuquf di Arafah kepada para Malaikat-Nya selama mereka datang semata-mata untuk mencari ampunan. Sedangkan berpuasa bagi yang tidak haji akan mendapatkan barakah iaitu diampuninya dosa-dosanya setahun yang lalu dan setahun yang akan datang. Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda : “ ... dan puasa pada hari Arafah, aku berharap kepada Allah untuk mengampuni setahun yang lalu dan setahun sesudahnya.” (HR. Muslim) Adapun hari Jumaat, Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda : “Sebaik-baik hari yang matahari terbit padanya adalah hari Jumaat. Pada hari itu Adam diciptakan, dimasukkan ke dalam Syurga dan dikeluarkan dari Syurga. Tidak akan terjadi hari kiamat kecuali pada hari Jumaat.” (HR. Muslim) Adapun sepertiga malam terakhir, ketika Allah turun ke langit dunia, turun pula barakah yang agung bagi orang yang berdoa dan minta ampun pada waktu tersebut. Sebagaimana sabda Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam : "Rabb kita Tabaraka wa Ta’ala turun pada setiap malam ke langit dunia ketika tersisa sepertiga malam terakhir. Allah berfirman : “Siapa yang berdoa kepada-Ku, Aku akan mengabulkannya. Siapa yang minta kepada-Ku, Aku akan memberinya, dan siapa yang meminta ampun kepada-Ku, Aku akan mengampuninya.” (HR. Bukhari) Mencari barakah pada waktu-waktu tersebut harus dengan cara yang telah disyariatkan oleh Allah dan sesuai dengan bimbingan Rasul-Nya shallallahu 'alaihi wa sallam. Kalau seorang hamba mencari barakah pada waktu-waktu tersebut dengan amal yang tidak disyariatkan nescaya dia tidak akan diberi taufiq untuk mendapatkan barakah tersebut. Demikian pula barakah terdapat pada beberapa jenis makanan sebagaimana yang disebutkan dalam hadis-hadis Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam seperti minyak zaitun, susu, al habbatus sauda’ (jintan hitam), madu, air zam-zam, dan kurma. Syaikh Muhammad Nashiruddin Al-Albani ditanya : "Wahai Syaikh kami -semoga Allah memberkahimu- para ulama salaf -semoga rahmat Allah atas mereka- menyebutkan bahawa tauhid ada tiga jenis iaitu; Uluhiyah, Rububiyah dan Asma wa Sifat. Maka, apakah dibenarkan jika kita mengucapkan bahawa di sana terdapat tauhid yang keempat iaitu 'Tauhid Hakimiyah' atau 'Tauhidul Hukum?' Beliau menjawab : "Al-Hakimiyah adalah bahagian dari 'Tauhid Uluhiyah". Mereka yang mendengung-dengungkan kalimat yang 'muhdats' tadi di zaman ini bukanlah untuk mengajari kaum muslimin tentang tauhid yang dibawa oleh para nabi dan para rasul seluruhnya, melainkan hanyalah sebagai senjata politik. Kerana itu aku akan tetap menyatakan untuk kalian apa yang telah aku ucapkan tadi, walaupun sebenarnya sudah berulang kali ditanyakan dan berulang kali aku menjawabnya. Atau kalau kau suka kita lewatkan saja apa yang sedang kita bahas. Dalam satu kesempatan seperti ini aku telah menyampaikan pendukung apa yang telah aku ucapkan tadi bahawa penggunaan kata 'hakimiyah' adalah pelengkap dakwah politik yang merupakan ciri khas beberapa 'hizb-hizb' yang ada pada hari ini. Pada kesempatan ini aku sampaikan satu kisah yang terjadi antara aku dengan salah seorang 'khatib' di salah satu masjid di Damaskus. Pada hari Jumaat dia berkhutbah yang seluruhnya berkisar tentang 'hakimiyah' bagi Allah Azza wa Jalla. Kemudian dia keliru dalam salah satu masalah fiqh. Ketika selesai shalat Jumaat aku maju kepadanya, aku ucapkan salam kepadanya dan aku katakan kepadanya : "Wahai saudaraku engkau berbuat seperti ini dan hal itu adalah menyelisihi sunnah". Dia menjawab : "Aku adalah orang yang bermazhab Hanafi yang berpendapat dengan apa yang aku kerjakan itu". Aku berkata : "Subhanallah', engkau berkhutbah bahawa 'hakimiyah' milik Allah Azza wa Jalla dan kalian menggunakan kata itu hanya sekadar untuk memerangi orang-orang yang kalian anggap sebagai hakim-hakim yang telah kafir kerana tidak berhukum dengan syari'at Islam. Sedangkan kalian lupa pada diri kalian sendiri bahawa 'hakimiyah' itupun mencakup setiap muslim. Maka mengapa sekarang ketika kusebutkan kepadamu bahwa Rasul berbuat seperti ini, engkau mengatakan bahawa mazhabku demikian. Bererti engkau menyelisihi apa yang kau dakwahkan. Maka, kalau sahaja tidak kerana mereka mengambil kata tersebut sebagai pengantar dakwah politik, tentu kami akan katakan : "Inilah dagangan kami kembali kepada kami". Ini adalah potongan terjemah ayat yang mengisahkan Nabi Yusuf yang maksud beliau adalah bahawa ucapan orang tadi tentang 'hakimiyah' kalau sahaja benar yang dimaksudkan adalah mengajak berhukum dengan hukum Allah tentu kata itu adalah dalil buat Syaikh Al-Albani dalam membantah 'muta'ashib' (orang yang ta'ashub) dengan mazhab Hanafi tadi. Yakni berhukumlah dengan hukum kitab wa sunnah jangan berhukum dengan hukum mazhab tertentu. Adapun dakwah yang manusia kami seru kepadanya di sana terdapat 'hakimiyah' dan selain 'hakimiyah' iaitu 'tauhid uluhiyah' sebagai tauhid ibadah yang termasuk di dalamnya apa yang mereka dengung-dengungkan. Atas apa yang kalian sebut-sebut ketika kalian mendengung-dengungkan 'tauhid hakimiyah', maka kami menyebarkan hadis Hudzaifah Ibnul Yaman bahawa Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam membacakan kepada para sahabatnya ayat-ayat mulia. "Ertinya : Mereka menjadikan pendeta-pendeta mereka dan ahli-ahli ibadah mereka sebagai rabb-rabb selain Allah" [At-Taubah : 31] Adi bin Hatim Ath-Tha'i mengatakan : "Demi Allah, wahai Rasulullah, kami tidak pernah menjadikan mereka sebagai rabb-rabb selain Allah". Maka beliau Shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda : "Bukankah jika mereka mengharamkan untuk kalian apa yang halal, maka kalian mengharamkannya ; dan jika mereka menghalalkan untuk kalian perkara yang haram maka kalian menghalalkannya?" Dia berkata : "Kalau demikian memang terjadi". Maka Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda: "Itulah bererti kalian menjadikan mereka sebagai rabb-rabb selain Allah". Kami juga yang menyebarkan hadis ini sampai kepada orang-orang lain hingga kemudian mereka mengembangkan dari 'tauhid Uluhiyah' atau tauhid ibadah dengan penamaan yang bid'ah dengan tujuan politik. Maka saya tidak berpendapat adanya istilah seperti ini. Kalau sahaja mereka mengucapkannya hanya dengan pengakuan tanpa mengamalkan konsekuensinya sebagaimana yang aku sebutkan tadi bahawa dia sudah termasuk dalam tauhid ibadah, tetapi kamu lihat mereka beribadah kepada Allah sesuai dengan apa yang mereka sepakati. Dan jika dikatakan sebagaimana yang kita sebut dalam kisah tadi bahawa amal ini menyelisihi sunnah atau menyelisihi ucapan Rasul, dia berkata : "Ini Mazhabku". 'Alhakimiyah bagi Allah bukan bererti hanya menentang orang-orang kafir dan musyrik sahaja, akan tetapi juga menentang orang-orang yang melanggar hukum seperti orang-orang yang beribadah kepada Allah tanpa sesuai dengan apa yang datang dari Allah dalam kitab-Nya dan dari Nabi-Nya Shallallahu 'alaihi wa sallam dalam sunnahnya. Inilah yang ada dalam benakku tentang jawapan terhadap pertanyaan seperti ini. Barangsiapa Menganggap Bahawa Tauhid Hakimiyyah merupakan Tauhid Keempat, maka ia Mubtadi' (Ahli Bid'ah)[Fatwa Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin] ------------------------------------------------------ Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin, Anggota Haiah Kibaril Ulama dan dosen di Fakulti Syari'ah dan Ushuluddien di kota Qashim, Saudi Arabia, ketika ditanya tentang permasalahan ini (Tauhid Hakimiyah), beliau menjawab : "Barangsiapa menganggap bahawa ada bahagian keempat dalam (pembahagian) tauhid yang disebut 'tauhid hakimiyah', maka orang tersebut dianggap 'mubtadi'. Ini adalah pembahagian yang diada-adakan dan timbul dari seorang 'jahil' yang tidak faham tentang perkara akidah dan agama sedikitpun. Yang demikian itu kerana 'al-hakimiyah' termasuk dalam tauhid 'rububiyah' dari sisi bahawasanya Allah menghukum dengan apa-apa yang Dia kehendaki. Ia juga termasuk dalam tauhid 'uluhiyah' (dari sisi), kerana setiap hamba wajib beribadah kepada Allah dengan hukum Allah. Dengan demikian 'hakimiyah' tidak keluar dari tiga jenis tauhid, iaitu tauhid 'rububiyyah' tauhid 'uluhiyah' dan tauhid 'asma wa sifat'. Ketika beliau ditanya tentang cara membantah mereka, beliau menjawab : "Saya membantah mereka dengan bertanya kepada mereka : Apa makna 'al-hakimiyah?' Tidak lain mereka akan mengatakan: 'inil hukmu illa lillah (tidak ada hukum selain hukum Allah). Padahal ini adalah tauhid 'rububiyah' Allah. Dia adalah 'Ar-Rabb' (Yang Memelihara), 'Al-Khaliq' (Yang Menciptakan), 'Al-Malik' (Yang Memiliki), 'Al-Mudabbir' (Yang Mengatur segala urusan). Adapun tentang maksud dan niat ucapan mereka ini, sesungguhnya kita tidak mengetahuinya, maka kita tidak boleh memastikannya. Tidak diperbolehkan Meletakkan Tauhid Hakimiyyah sebagai bagian Khusus dalam Pembagian Tauhid [Fatwa Syaikh Abdul Aziz bin Abdillah Alu Syaikh] ------------------------------------------------------ Syaikh Abdul Aziz bin Abdillah Alu Syaikh, anggota Haiah Kibarul Ulama di Saudi Arabia dan wakil Mufti Am urusan fatwa, berkata tentang permasalahan ini. Ketika seorang muslim memperhatikan kitab Allah Subhanahu wa Ta'ala dan sunnah Rasul-Nya Shallallahu 'alaihi wa sallam, dia akan mendapati bahawa tauhid ada tiga jenis. 1. Tauhid rububiyah yang juga diyakini oleh kaum musyrikin seluruhnya dan tidak ada seorangpun yang menentangnya, iaitu keyakinan bahawa Allah adalah Rabb dan Khaliq (Pencipta) segala sesuatu. Semua jiwa diciptakan di atas tauhid ini. Bahkan Firaun yang berkata : 'Ana Rabbukumul A'la (Aku adalah Rabb kalian yang paling tinggi)' (sesungguhnya juga meyakini akan hal ini). Allah berfirman tentang Firaun. "Ertinya : Mereka (Firaun dan kaummnya) mendustakan (risalah yang dibawa oleh Nabi Musa) kerana kezaliman (syirik) dan kesombongannya. Sedangkan jiwa-jiwa mereka meyakininya" [An-Naml : 14] 2. Apa yang ada dalam kitab Allah berupa penjelasan nama-nama Allah dan sifat-sifat-Nya dalam firman-Nya Ta'ala. "Ertinya : Allah memiliki nama-nama yang paling baik, maka berdoalah kalian kepada Allah dengannya" [Al-A'raaf : 180] Begitu pula sifat-sifat Allah di dalam kitab-Nya. Allah mensifati diri-Nya dengan beberapa sifat dan menamai diri-Nya dengan beberapa nama. Dan termasuk konsekwensi iman adalah 'engkau mengimani nama-nama Allah dan sifat-sifat-Nya'. 3. Tauhid yang didakwahkan oleh para rasul kepada umat-umat mereka adalah mengikhlaskan/memurnikan agama hanya untuk Allah dan mengesakan Allah dalam segala bentuk ibadah. "Ertinya : Dan Kami tidak mengutus seorang rasul sebelum kamu melainkan Kami wahyukan kepadanya bahawasanya : Tidak ada sesembahan yang berhak untuk diibadahi selain Aku. Maka hendaklah kalian beribadah kepada-Ku" [Al-Anbiya : 25] Apabila engkau perhatikan Al-Quran, maka engkau akan mendapatkan tauhid dalam pengertian ini. Allah berfirman. "Ertinya : Dan sungguh jika engkau bertanya kepada mereka : 'Siapakah yang menciptakan langit-langit dan bumi?' Tentu mereka akan menjawab: 'Allah' "[Luqman : 25] Dan firman-Nya."Ertinya : Katakanlah ; siapakah yang memberi rezeki kepadamu dan langit dan bumi atau siapakah yang mampu (menciptakan) pendengaran dan penglihatan dan siapakah yang mengeluarkan yang hidup dari yang mati dan mengeluarkan yang mati dari yang hidup serta siapakah yang mengatur segala urusan. Maka mereka akan mengatakan : 'Allah ?' [Yunus : 31] Lalu Allah berfirman."Ertinya : Kenapa kalian tidak bertaqwa" [Yunus : 31] Yakni kenapa kalian tidak beribadah kepadaNya dan mengikhlaskan/memurnikan agama hanya bagi-Nya. Adapaun tentang 'al-hakimiyah', apabila yang dimaksud adalah berhukum dengan syariat Allah, maka termasuk konsekwensi tauhid seorang hamba kepada Allah dan pemurnian ibadah hanya kepada Allah adalah berhukum dengan syari'at-Nya. Barang siapa meyakini bahawa Allah itu Satu, Esa, Tunggal, Tempat bergantung, tidak ada sesembahan yang berhak untuk diibadahi selain-Nya, maka wajib atasnya berhukum dengan syariat-Nya dan menerima agama-Nya serta tidak menolak sedikitpun dari perkara itu. Dengan demikian, termasuk beriman kepada Allah adalah berhukum dengan syari'at-Nya, melaksanakan perintah-perintah-Nya, meninggalkan dan menjauhi larangan-larangan-Nya serta berhukum dengan syari'at Allah dalam setiap keadaan. Jika demikian halnya maksud 'al-hakimiyah' bererti termasuk dalam tauhid uluhiyah dan tidak boleh menjadikan 'al-hakimiyah' sebagai bahagian khusus yang dipisahkan kerana ia termasuk bahagian dalam tauhid ibadah. Masalah Al Hakimiyah Merupakan Perkara yang Baru (Diada-adakan, sebelumnya tidak dikenal) [Fatwa Syaikh Dr Nashir bin Abdul Karim Al'Aql] ------------------------------------------------------ Syaikh Dr Nashir bin Abdul Karim Al-Aql, guru dalam bidang akidah dan mazhab-mazhab Al-Mua'asharah Fakulti Ushuluddin di Riyadh, cabang Universiti Al-Imam Muhammad bin Su'ud Al-Islamiyah, mengatakan bahawa pembicaraan tentang masalah Al-Hakimiyah termasuk perkara-perkara baru yang tidak pernah disebut di kalangan Salaf dengan istilah ini. Apabila kita sodorkan permasalahan ini dengan kaedah-kaedah Salaf dalam hal nama-nama dan sifat-sifat Allah serta perbuatanNya, maka kita ketahui bahawa Al-hakimiyah dengan lafaz ini tidak ada asalnya secara syari'at. Tinggal sebagai lafaz global yang mengandung banyak pengertian. Hal itu kerana nama-nama Allah dan sifat-sifat-Nya serta perbuatan-perbuatan-Nya adalah perkara 'taufiqiyah' (yang hanya ditentukan oleh Allah dan Rasul-Nya), tidak boleh menamai Allah Ta'ala atau mensifati-Nya kecuali dengan apa-apa yang Allah mensifati diri-Nya dengannya atau yang Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam mensifati-Nya dengannya. Begitu juga ucapan bahawasanya 'al-hakimiyah' merupakan bahagian tauhid keempat tidaklah benar kerana masalah hakimiyah mempunyai dua makna. Pertama. Kembali pada makna tasyri' dan perkara syar'i. Hal ini masuk ke dalam tauhid ilahiyah (tauhid ibadah wa tha'ah). Seperti firman Allah. "Ertinya : Kemudian Kami jadikan kamu berada di atas suatu syari'at dari urusan (agama), maka ikutilah syari'at itu..." [Al-Jatsiyah : 18] Juga firman-Nya. "Ertinya : Dan siapakah yang lebih baik hukumnya daripada Allah bagi kaum yang yakin" [Al-Maidah : 50] Kedua. Kembali kepada hukum qadha dan qadar. Hal ini termasuk ke dalam tauhid rububiyah. Seperti firman Allah. "Ertinya : Akan tetapi milik Allah-lah semua perintah" [Ar-Ra'd : 31] Juga firman-Nya. "Ertinya : Maka bersabarlah dengan hukum Rabbmu" [Al-Qalam : 48] Demikian pula sangkaan bahawa 'al-hakimiyah' adalah kekhususan ilahiyah yang paling khusus, tidak ada asalnya dan ini adalah sangkaan yang diada-adakan. 'al-hakimiyah' kadang dimungkinkan untuk makna yang benar, iaitu dikembalikan kepada lafaz syar'i dan nama-nama Allah dan siafat-sifatNya yang warid dalam kitab dan sunnah. Dan kadang mungkin untuk makna yang tidak ada dalil atasnya, maka yang demikian ditolak. Kerana dalam makna ini 'al-hakimiyah' merupakan lafaz yang diada-adakan sebagaimana lafaz-lafaz yang diada-adakan oleh Jahmiyah, Mu'tazilah dan dasar ilmu kalam seperti 'wajibul wujud, al-qadim, at-takwin' as-shani' dan lafaz-lafaz lain yang kadang-kadang mengandungi makna haq atau batil atau keduanya sehingga lafaz-lafaz ini merupakan lafaz yang 'musykilah' (mengandung permasalahan). Maka makna-maknanya yang hak diterima dan dikembalikan kepada lafaz-lafaz syar'i, dan kita tidak perludengan lafaz 'al-hakimiyah' atau lainnya. Sedangkan makna yang batil kita tolak lafaz mahupun maknanya. Tidak boleh memaksakan lafaz-lafaz tersebut khususnya yang berkaitan dengan Allah Azza wa Jalla, nama-nama-Nya, sifat-sifat-Nya serta perbuatan-perbuatan-Nya, selama tidak tersebut dalam kitab dan sunnah. Maka kalau begitu 'al-hakimiyah' merupakan lafaz yang bermasalah yang tidak diperlukan agama ini dan akidah tidak tegak di atasnya serta pemahaman mereka tidak lepas dari sikap yang melampaui batas dalam makna yang dimaksud menurut mereka. Maka penggunaan kata 'al-hakimiyah' lebih utama untuk ditinggalkan. Kewajiban Taat Kepada Pemerintah Kewajiban taat kepada pemerintah merupakan salah satu prinsip Islam yang agung. Namun di tengah carut-marutnya kehidupan politik di negara-negara muslim, prinsip ini menjadi bias dan sering dituding sebagai bahagian dari gerakan pro status quo. Padahal, agama yang sempurna ini telah mengatur bagaimana seharusnya sikap seorang muslim terhadap pemerintahnya, baik yang adil mahupun yang zalim. KKN, represivitas penguasa, kedekatan pemerintah dengan Barat (baca: kaum kafir), seringkali menjadi isu yang diangkat sekaligus dijadikan pembenaran untuk melawan pemerintah. Dari yang ‘sekadar’ demonstrasi, hingga yang berwujud pemberontakan fizikal. Meski terkadang isu-isu itu benar, namun sesungguhnya syariat yang mulia ini telah mengatur bagaimana seharusnya seorang muslim bersikap kepada pemerintahnya, sehingga diharapkan tidak timbul kerosakan yang jauh lebih besar. Yang menyedihkan, Islam atau jihad justeru yang paling laris dijadikan tameng untuk melegalkan gerakan-gerakan perlawanan ini. Di antara mereka bahkan ada yang menjadikan tegaknya khilafah Islamiyah sebagai harga mati dari tujuan dakwahnya. Mereka pun berangan-angan, seandainya kejayaan Islam di masa khalifah Abu Bakar dan Umar bin Al-Khaththab dapat tegak kembali di masa kini. Jika diibaratkan, apa yang dilakukan kelompok-kelompok Islam ini seperti “menunggu hujan yang turun, air di tempayan ditumpahkan”. Yakni, mereka sangat berharap akan tegaknya khilafah Umar bin Al-Khaththab namun kewajiban yang Allah perintahkan kepada mereka terhadap penguasa yang ada di hadapan mereka, justeru dilupakan. Padahal dengan itu, Allah akan mengabulkan harapan mereka dan harapan seluruh kaum muslimin. WAJIBNYA TAAT KEPADA PENGUASA MUSLIM Allah telah memerintahkan kepada kaum muslimin untuk taat kepada penguasanya betapapun jelek dan zalimnya mereka. Tentunya dengan syarat, selama para penguasa tersebut tidak menampakkan kekafiran yang nyata. Allah juga memerintahkan agar kita bersabar menghadapi kezaliman mereka dan tetap berjalan di atas sunnah. Kerana barangsiapa yang memisahkan diri dari jamaah dan memberontak kepada penguasanya maka matinya mati jahiliyyah. Yakni mati dalam keadaan bermaksiat kepada Allah seperti keadaan orang-orang jahiliyyah.1 (Lihat ucapan Al-Imam An-Nawawi dalam Syarah Shahih Muslim) Dari Ibnu Abbas, dia berkata: ”Rasulullah bersabda yang bermaksud: “Barangsiapa yang melihat sesuatu yang tidak dia sukai dari penguasanya, maka bersabarlah! Kerana barangsiapa yang memisahkan diri dari jamaah sejengkal saja, maka ia akan mati dalam keadaan mati jahiliyyah.” (Shahih, HR. Al-Bukhari dan Muslim) Diriwayatkan dari Junadah bin Abu Umayyah z, dia berkata: “Kami masuk ke rumah Ubadah bin Ash-Shamit ketika beliau dalam keadaan sakit dan kami berkata kepadanya: ‘Sampaikanlah hadis kepada kami –aslahakallah- dengan hadis yang kau dengar dari Rasulullah yang dengannya Allah akan memberikan manfaat bagi kami!’ Maka ia pun berkata: “Rasulullah memanggil kami kemudian membai’at kami. Dan di antara baiatnya adalah agar kami bersumpah setia untuk mendengar dan taat ketika kami semangat ataupun tidak suka, ketika dalam kemudahan ataupun dalam kesusahan, ataupun ketika kami diperlakukan secara tidak adil. Dan hendaklah kami tidak merebut urusan kepemimpinan dari orang yang berhak –beliau berkata- kecuali jika kalian melihat kekufuran yang nyata, yang kalian memiliki bukti di sisi Allah.” (HR. Al-Bukhari dalam Shahih-nya juz 13 hal.192, cet. Maktabatur Riyadh Al-Haditsah, Riyadh. HR. Muslim dalam Shahih-nya, 3/1470, cet. Daru Ihya-ut Turats Al-Arabi, Beirut, cet. 1) WAJIB TAAT WALAUPUN JAHAT DAN ZALIM Kewajipan taat kepada pemerintah ini, sebagaimana dijelaskan Rasulullah, adalah terhadap setiap penguasa, meskipun jahat, zalim, atau melakukan banyak kejelekan dan kemaksiatan. Kita tetap bersabar mengharapkan pahala dari Allah dengan memberikan hak mereka, iaitu ketaatan walaupun mereka tidak memberikan hak kita. Diriwayatkan dari Abdullah bin Mas’ud, dia berkata: “Rasulullah bersabda yang bermaksud: ‘Akan muncul setelahku atsarah (orang-orang yang mengutamakan diri mereka sendiri dan tidak memberikan hak kepada orang yang berhak) dan perkara-perkara yang kalian ingkari’. Mereka (para shahabat) bertanya: ‘Apa yang engkau perintahkan kepada kami wahai Rasulullah?” Beliau berkata: “Tunaikanlah kewajiban kalian kepada mereka dan mintalah hak kalian kepada Allah.”(Shahih, HR. Al-Bukhari dan Muslim dalam Shahih keduanya) Diriwayatkan pula dari ‘Adi bin Hatim. Dia berkata: “Kami mengatakan: Wahai Rasulullah kami tidak bertanya tentang ketaatan kepada orang-orang yang takwa, tetapi orang yang berbuat begini dan begitu... (disebutkan kejelekan-kejelekan), maka Rasulullah bersabda: ‘Bertakwalah kepada Allah! Dengar dan taatlah!’ (Hasan lighairihi, diriwayatkan oleh Ibnu Abu ‘Ashim dalam As-Sunnah dan lain-lain. Lihat Al-Wardul Maqthuf, hal. 32) Berkata Ibnu Taimiyyah t: “Bahawasanya termasuk ilmu dan keadilan yang diperintahkan adalah sabar terhadap kezaliman para penguasa dan kejahatan mereka, sebagaimana ini merupakan prinsip dari prinsip-prinsip Ahlus Sunnah wal Jamaah dan sebagaimana diperintahkan oleh Rasulullah dalam hadis yang masyhur.” (Majmu’ Fatawa juz 28, hal. 179, cet. Maktabah Ibnu Taimiyyah Mesir) Sedangkan menurut Al-Imam An-Nawawi t: “Kesimpulannya adalah sabar terhadap kezaliman penguasa dan bahawasanya tidak gugur ketaatan dengan kezaliman mereka.” (Syarah Shahih Muslim, 12/222, cet. Darul Fikr Beirut) Berkata Ibnu Hajar: “Wajib berpegang dengan jamaah muslimin dan penguasa-penguasa mereka walaupun mereka bermaksiat.” (Fathul Bari Bi Syarhi Shahihil Bukhari) TETAP TAAT WALAUPUN CACAT Meskipun penguasa tersebut cacat secara fizikal, Rasulullah tetap memerintahkan kita untuk tetap mendengar dan taat. Walaupun hukum asal dalam memilih pemimpin adalah laki-laki, dari Quraisy, berilmu, tidak cacat, dan seterusnya, namun jika seseorang yang tidak memenuhi kriteria tersebut telah berkuasa -apakah dengan pemilihan, kekuatan (kudeta), dan peperangan- maka ia adalah penguasa yang wajib ditaati dan dilarang memberontak kepadanya. Kecuali, jika mereka memerintahkan kepada kemaksiatan dan kesesatan, maka tidak perlu menaatinya (pada perkara tersebut) dengan tidak melepaskan diri dari jamaah. Diriwayatkan dari Abu Dzar bahawa dia berkata: “Telah mewasiatkan kepadaku kekasihku agar aku mendengar dan taat walaupun yang berkuasa adalah bekas budak yang terpotong hidungnya (cacat)” (Shahih, HR. Muslim dalam Shahih-nya, 3/467, cet. Daru Ihya-ut Turats Al-Arabi, Beirut. HR. Al-Bukhari dalam Al-Adabul Mufrad, hal. 54) Juga diriwayatkan dari Suwaid bin Ghafalah z. Dia berkata: “Berkata kepadaku ‘Umar: ‘Wahai Abu Umayyah, aku tidak tau apakah aku akan bertemu engkau lagi setelah tahun ini..., jika dijadikan amir (pemimpin) atas kalian seorang hamba dari Habsyah, terpotong hidungnya maka dengarlah dan taatlah! Jika dia memukulmu, sabarlah! Jika mengharamkan untukmu hakmu, sabarlah! Jika ingin sesuatu yang mengurangi agamamu, maka katakanlah aku mendengar dan taat pada darahku bukan pada agamaku, dan tetaplah kamu jangan memisahkan diri dari jamaah!” ___________________________ Terbitan : 31 Mac 2004
Diterbitkan oleh : |