Tinggal di KL tahun 1978 - 1982, saya dapati Malaysia yg tentram, aman dan damai. Rakyat Melayu, India & Cina bahu membahu membangun negri yg indah ini. Akhir 1998 saya bernostalgia ke kota kenangan KL yg telah berubah laksana dari gadis dusun yg cantik bersahaja menjadi gadis model metropolitan penuh make up yang luar biasa.
Hingga hari ini, saya selalu berfikir, semua ini berkat jasa Dr. M yg menurut berbagai media yg saya baca selama ini cukup adil, bijaksana, anti kolusi & korupsi, anti kolonialisme barat, hingga ada yg memberikan tittle little Soekarno.
Namun detik ini setelah saya browse ke berbagai website yg membahas Malaysia detik ini, saya benar2 terperangah, untung tidak sampai kena serangan jantung !, Dr. M yg saya agung2kan selama ini, setelah 20 tahun "menjaga" Malaysia telah berubah pula, bukan menjadi cantik molek laksana gadis model, namun menjadi little Suharto yg membuat saya gundah,
Segera saya panjatkan do'a khusuk, semoga Allah tidak menorehkan sejarah Malaysia ku yg indah menjadi.. merah darah, hitam porak poranda setelah hangus terbakar, lapar jasad & nurani, isak tangis disegala penjuru.. seperti yang dialami negara saya, Indonesia saat ini..
Demokrasi membutuhkan waktu dan proses yg panjang, tidak instant seperti Maggie mie. Demokrasi memerlukan pelaku yg dewasa dan bertanggung jawab secara pikiran dan perilaku. Cukuplah Indonesia yg menjadi contoh hiruk pikuk demokrasi, tanpa ada yg mau bertanggung jawab, untuk menuntaskan hasil terbaik dari demokrasi yg telah ramai2 diikrarkan bersama.
Selamat Berjuang Malaysia, do'a saya bersama mu, Amien.
Kiki Isbianto.