Jakarta, BPost
Anti-Amerika Serikat (AS) dan sekutunya melanda tanah air. Majelis Ulama Indonesia bahkan menyerukan setiap umat Islam berjihad melawan AS dan sekutunya jika tetap nekat menyerang Afghanistan.
"Kami menyerukan umat Islam sedunia bersatu padu menggalang segala kekuatan untuk berjuang dijalan Allah atau jihad fisabilillah apabila agresi AS dan sekutu-sekutunya terhadap Afghanistan dan dunia Islam terjadi," kata Sekum Dewan Pimpinan MUI Din Syamsuddin didampingi Ketua Dewan Pimpinan MUI H Amidhan dan pimpinan 32 organisasi Islam di Indonesia di kantor MUI Masjid Istiqlal Jakarta, Selasa (25/9).
Organisasi Islam yang ikut mendukung pernyaan MUI itu antara lain Muhammadiyah, Dewan Dakwah Islamiyah, Ikatan Cendekiawan Muslim Indonesia (ICMI), dan Korps Alumni Himpunan Mahasiswa Islam (KAHMI), Sarekat Islam, PP Muslimat NU.
Pemerintah AS melalui pejabat resminya di kedubes AS di Jakarta menyatakan bahwa negerinya tidak akan menyerang umat Islam.
"AS tidak akan gegabah melakukan itu, apalagi melawan muslim," kata Ibrahim Ambon, ketua Komisi I DPR RI, Selasa (25/9) mengutip penjelasan wakil dubes AS.
Kata Ibrahim, Wakil Dubes AS menyatakan bahwa pemerintah AS akan bertindak hati-hati dalam melakukan penyerangan terhadap Afghanistan.
"Tadi dikatakan, Pemerintah AS tidak akan menyerang muslim dan hanya akan mencari teroris saja," kutipnya.
Sementara dilaporkan, Amerika Serikat telah memutuskan mengubah sandi operasi militer sebagai pembalasan atas aksi teror 11 September lalu. Semula, Pentagon memberikan sandi "Operation Infinite Justice" yang diterjemahkan menjadi "Operasi Keadilan Tidak Berkesudahan".
Keputusan perubahan operasi itu, menurut Menhan Donald Rumsfeld, guna menghindari ketersinggungan umat Muslim yang percaya bahwa hanya Allah yang bisa memberikan "keadilan yang tidak berkesudahan".
"Kami ingin menemukan nama yang benar-benar mencerminkan upaya itu dan tentu saja yang tidak menimbulkan pertanyaan dari umat salah satu agama atu kelompok masyarakat," ujar Rumsfeld seperti dilaporkan televisi CBS, kemarin.
Din Syamsuddin mengingatkan AS, MUI menilai serangan terhadap Afghanistan dapat dipandang sebagai cerminan sikap permusuhan dan kebencian terhadap Islam dan umat Islam. Itu sebabnya, cetus Din, "kami meminta pemerintah AS melakukan introspeksi atas segala sikap tidak adil dan standar ganda yang dilakukan selama ini."
Ditegaskan, MUI mendesak PBB untuk tidak memberi toleransi kepada suatu negara manapun melakukan agresi militer terhadap negara lain. Sebab, tindakan ini bertentangan dengan prinsip-prinsip yang harus ditegakkan oleh PBB sendiri.
Namun begitu, MUI pun mengecam tindakan terorisme yang mengakibatkan runtuhnya gedung kembar WTC dan mengakibatkan banyaknya korban manusia. "Tindakan itu bertentangan dengan nilai-nilai Islam yang sangat menekankan kasih sayang, perikemanusiaan dan perdamaian," katanya.
MUI dan organsasi Islam di Indonesia, lanjut Din Syamsuddin, mendukung penuh upaya memerangi terorisme. Tetapi, harus dibedakan antara teroris sesungguhnya dan yang bukan teroris.
Kepada pemerintah Indonesia, MUI dan organisasi Islam menyerukan untuk tidak mendukung rencana serangan itu pada Afghanistan, baik berupa dukungan politik maupun moral. "Termasuk tidak mengizinkan teritorial Indonesia dilalui armada dan pesawat tempur AS," tegasnya.
Selain itu, MUI mengimbau umat Islam tidak melakukan tindakan penganiayaan terhadap warga negara Amerika dan warga negara barat lainnya yang berada di Indonesia. "Tindakan seperti itu tidak sesuai dengan nilai-nilai Islam yang membawa rahmat bagi alam semesta dan dapat merusak citra Islam sebagai agama perdamaian," katanya.
Namun MUI sangat menyesalkan terjadinya aksi intimidasi serupa dan teror terhadap kaum muslimin bahkan perusakan mesjid seperti yang terjadi di AS, Inggris, Australia.
Sementara itu, Rektor IAIN Syarif Hidayatullah Jakarta, Prof Dr Azyumardi Azra, meminta Presiden Megawati Soekarnoputri segera menemui pimpinan Umat Islam di Indonesia, begitu pulang dari lawatannya di Amerika dan Jepang.
"Itu sangat penting dilakukan segera oleh Megawati, mengingat semakin gencarnya dan besar gelombang aksi anti AS di dalam negeri dan itu akan terus membesar, apalagi setelah MUI dan 32 Ormas Islam Indonesia resmi menyerukan jihad melawan AS," tutur Azyumardi kepada pers, usai berbicara pada di seminar bertajuk "Konflik etnik dan Agama Serta Masa Depan Indonesia" di Hotel Sahid Jakarta, Selasa (25/9).
Sementara itu gelombang aksi menentang AS terus bergulir di Jakarta. Setidaknya empat kelompok berlainan, Selasa kemarin berunjuk di Kedubes AS Jalan Medan Merdeka Utara dan Kedubes Australia di Jalan Rasuna Said Jakarta.
Aksi di Kedubes AS dilakukan Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah (IMM), Solidaritas Islam untuk Afganistan dan Masyarakat Anti Diskriminasi (MAD). Sedangkan di Kedubes Australia dilakukan ratusan massa dari kelompok Hidayatullah.
Kedutaan Besar Inggris di Jakarta telah meminta perlindungan Polda Metro Jaya dari kemungkinan aksi sweeping oleh kelompok tertentu terhadap warga negaranya secara diam-diam.
"Kami telah meminta Kapolda Metro Jaya agar ada perlindungan terhadap kami," ujar Dubes Inggris Richard Gozney di sela-sela seminar tentang hubungan sipil militer kerjasama antara Kedubes Inggris dan Dephan di Jakarta, Selasa.
Saat ini, diperkirakan ada 3.000 hingga 4.000 warga negara Inggris yang ada di Indonesia. Gozney sangat percaya atas kemampuan aparat kepolsiian di Indonesia untuk melindungan warga negara mereka.
Menlu Hasan Wirayudha yang tengah berada di New York, AS menyesalkan sikap sebagian masyarakat di kota Solo, Jawa Tengah yang melakukan aksi sweeping terhadap warga AS.
Berbicara kepada pers setempat Senin malam, Wirayudha mengatakan sangat prihatin atas aksi tersebut, karena dapat mengganggu upaya pemerintah dalam memulihkan citra Indonesia di mata internasional. "Kita perlu ada pengertian di tanah air agar tidak ada aksi-aksi yang memperburuk citra Indonesia di luar negeri," ucapnya.
Kapolda Metro Jaya Irjen Sofjan Jacoeb menyatakan, tindakan sweeping terhadap warga AS hanya akan memalukan bangsa. Itu sebabnya, "kami akan menangkap mereka sesuai hukum," tandas kapolda, Selasa (25/9).
Berkait adanya niat sweeping sekolompok masyarakat itu Polda Metro Jaya merencakan menempatkan penembak jitu (sniper) di 17 lokasi rawan. Tempat rawan yang dimaksud itu antara lain, bandar udara, aset-aset AS, perumahan warga AS, dan Kedutaan Besar AS.
Pangdam Jaya Mayjen Bibit Waluyo mengatakan, masyarakat tidak usah ikut-ikutan bertindak anarkis dan kontroversial berkaitan dengan rencana penyerangan AS atas Afghanistan.
"Buat apa sih demo segala, ‘kan kasihan rakyat kecil banyak yang lapar. Masalah Amerika ya di Amerika saja," katanya.
Wapres Hamzah Haz menentang langkah yang telah diambil beberapa kelompok masyarakat di tanah air yang melakukan sweeping terhadap warga AS dan mengusir mereka dari Indonesia.
"Sweeping adalah tidak tepat," tandas wapres dicegat wartawan usai memimpin sidang kabinet terbatas bidang Kesra di gedung utama Setneg Jakarta, Selasa.
Pada hari Minggu (23/9) terjadi sweeping terhadap orang Amerika di Solo. Keinginan untuk melakukan sweeping juga telah dinyatakan beberapa kelompok masyarakat lainnya.
"Jangan orang-orang asing disini kita binasakan, serahkan pada pemerintah," kata Wapres yang memberikan keterangan sambil berdiri di samping mobilnya.